01 Mei 2009

Pendidikan di daerah terpencil merupakan medan perjuangan bagi guru. Berbagai masalah ada di kawasan yang jauh dari kota ini. Masalah geografis, demografis, kemiskinan, keterbatasan sarana dan prasarana hingga ketidakpedulian kalangan akademis terhadap pendidikan didaerah terpencil.

Dilihat dari sudut pandang geografis, daerah terpencil diartikan sebagai daerah yang sulit dijangkau karena umumnya merupakan kawasan pegunungan atau rawa. Pembangunan infrastruktur sangat lambat disana. Jalan, listrik, pasar, sekolah dan lain-lain sangat ketinggalan. Contohnya di Bajayau, sebuah daerah terpencil di kabupaten Hulu Sungai Selatan provinsi Kalsel. Fasilitas jalan baru mulai dapat "dinikmati" 1 tahun ini. Padahal Indonesia sudah merdeka lebih dari setengah abad lamanya. Demikian pula terbatasnya sarana dan prasarana yang ada disana. Gedung sekolah yang bocor, buku yang tidak memadai, guru yang kurang, dan sebagainya sudah lumrah menghiasi sekolah-sekolah di daerah terpencil.

Masalah demografis umunya adalah masalah sedikitnya jumlah penduduk. Mungkin ini yang menyebabkan daerah terpencil kurang diminati dari segi politik pembangunan. Lihat saja mana ada caleg atau parpol yang menjalankan kampanyenya ke daerah terpencil. Kalau dihitung secara ekonomis mungkin tidak menguntungkan. Semoga tidak demikian pandangan pemerintah. Semoga tidak karena jumlah penduduk tidak sebanyak di kota maka pembangunan di daerah terpencil jadi nomor uncit (uncit=akhir).

Tapi penekanan tulisan ini bukan pada masalah-masalah di atas. Tapi ada masalah yang lebih mengkhawatirkan adalah ketidakpedulian intelektual pada kemajuan di daerah terpencil. Menurut pengamatan saya, PNS atau guru baru enggan ditempatkan didaerah terpencil. Sebelum proses penempatan maka para intelektual muda tersebut bergerilya melobi pembuat keputusan.Tujuannya sih agar ditempatkan tidak jauh dari kota.

Walaupun akhirnya ada yang terlanjur ditempatkan didaerah terpencil, maka yang ada diotaknya tidak lain adalah bagaimana agar cepat pindah. Jadi kinerja tidak maksimal. Sedikit-sedikit ada kesempatan langsung mengusulkan pindah.

Herannya lagi ada guru baru bekerja setahun udah pindah. Padahal waktu awal jadi PNS mereka menandatangani surat pernyataan bersedia ditempatkan seluruh wilayah Indonesia. Masalah ini diperparah dengan tidak adanya perencanaan dan aturan main yang jelas dalam pendistribusian guru. Dinas pendidikan kabupaten selaku penentu penempatan dan pemindahan guru sering "kada balampu" (kada balampu=tidak pakai lampu). Maksudnya penempatan atau proses pindah tidak sesuai kebutuhan. Jadi jangan heran kalau ada sekolah di kota yang guru Bahasa Indonesianya sampai tujuh orang. Sementara ada sekolah didaerah terpencil yang guru PNS nya cuma 2 orang saja.

Sebagai intelektual muda yang idealis, harusnya para CPNS bersedia dan bersemangat ditempatkan didaerah terpencil. Sejatinya daerah terpencil merupakan kawah candradimuka bagi penempaan intelektual. Kalau sewaktu kuliah kita hanya dapat teori, maka waktu didaerah terpencil kita dapat mempraktikkan ilmu. Kelebihan lain bekerja didaerah terpencil adalah pembentukan sifat pengabdian yang tulus. Semua tidak melulu harus menguntungkan. Semua tidak melulu harus demi uang. Jujur saja, mengajar didaerah terpencil tidak menguntungkan dari segi mater. Mengajar didaerah terpencil jauh dari gelimang harta. Bahkan terkadang kita mengeluarkan duit sendiri untuk membantu pendidikan disana. Tapi yang hikmah mengajar didaerah terpencil adalah kita memperoleh kekayaan hati. Kita terbiasa menjadi lilin yang rela menerangi orang lain. Kita terbiasa banyak memberi, bukanya banyak mengambil.

Nah, jangan biarkan kami berjuang sendiri..kami tunggu kiprah para intelektual muda semua untuk memajukan pembangunan di daerah terpencil.

24 komentar:

  1. Sabar ja pa lah... kytu pang idealisme buhannya tu,,, paham ja berataan dah yang kytu tu

    BalasHapus
  2. nah sama halnya blogger muda harus bisa berani..hee

    BalasHapus
  3. Jangankan di daerah terpencil boz, ditempatkan di Surabaya saja saya enggan

    BalasHapus
  4. saya angkat topi kepada rekan2 sejawat yang bersedia mengabdikan dirinya di daerah terpencil, pak syam. menjadi guru, khususnya, insyaallah amal pengabdiannya akan selalu dihitung dunia-akhirat, pak, amiin.

    BalasHapus
  5. @Wahyu:faham ai, nah justeru itu yang perlu ditatar, masih muda kok udah loyo...

    @manusiahero:kalau blogger rata-rata nggak seperti itu, blogger umumnya idealis dan berani.

    @soulharmony:enggan apa karena kurang basah lahannya bos?

    @aidicard:sabar ai..tapi mun bediam diri ja kapan majunya Indonesia..Apa kata dunia?

    @sawali tuhusetya:trims atas dukungannya..moga rekan-rekan guru yang masih muda-muda bersedia ikut berjuang memajukan daerah terpencil

    BalasHapus
  6. Betul, Syam. Saya tak menganggap keseluruhan CPNS jelek dan tak punya idealisme cukup. Tapi kebanyakan mereka memang begitu.

    BalasHapus
  7. sabar pak....
    ikhlas.... Insya Allah berkah
    Artikel terbaru dari budies: hidup harus optimis, falsafah air

    BalasHapus
  8. Met Hari Pendidikan..
    semoga pendidikan di indonesia tidak selalu menggaungkan dan mengagungkan program2 pemerintah yang notabene berlabel GRATIS tapi skulnya di bawah standar, ngga berkwalitas.. sukses buat seluruh Guru di indonesia.. kalian adalah pahlawan tanpa tanda jasa...

    BalasHapus
  9. Birokrasi memang memuakkan, terlalu banyak tawar menawar. Yang akhirnya menghilangkan ketulusan dalam mengabdi. Pengajar dan PNS seperti ini mending kelaut aja.

    BalasHapus
  10. @suhadinet:yap..mudahan cpns yang baru ini bermental baja. sebab untuk wilayah kandangan pilihan tempat tugas tinggal 2, Loksado dan Nagara...gunung dan rawa...

    BalasHapus
  11. ya itulah CPNS....
    waktu melamar menyertakan surat pernyataan bersedia di tempatkan dimana saja di wilayah NKRI ini, tapi waktu menerima Surat Perintah Tugas, banyak yg ngga mau melaksanakan dgn alasan daerah terpencil.. weleh..2x membingungkan... sempat pernah ada yang nyeletuk, bersedia di tempatkan di mana saja (yang penting dekat rumah pak) hehehehe..

    BalasHapus
  12. paling nyaman sih anak di kampung setempat yang dididik. disekolahin trz lulusnya harus mengabdi d kampungnya (kayak ikatan dinas gituh). tp masalahnya, siapa yang nyekolahin mereka ya?!

    ngarap sekolah gratis?! ah, cm sampai WAJAR DIKDAS 9 th. SMAnya, kulnya, siapa yg nanggung?!
    lgian, pengalaman wktu KKN penuntasan WAJAR DIKDAS 9 th di salah satu kab. termiskin di Banyuwangi, sekolahnya c emang gratis. tp...
    baju sekolah tetap beli sendiri...
    buku tulis, tas, penggaris, dkknya tetap beli sendiri...
    tetap harus kasih anak jajan to sekolah (kasus di Desa pendataan ulun tuh. ada anak kd mu sekolah coz ortu kd bs beri jajan to anaknya sekolah!!)
    kalau dhitung-hitung, uang to itu semua lebih ganal drpd to byar SPP, BP3, atau apalah istilahnya

    tp kalau aku ditempatkan di daerah terpencil mgkn mikir" jg sih. mgkn krn gak terbiasa (gak ada mall c ^.^v). krn jauh dr ehm" jg ntar. hoho... (o^.^o)v

    BalasHapus
  13. Pak Syam, di tempat saya (SMP Negeri 2 Talun), sejak berdiri 11 tahun lalu hingga kini tak pernah dapat sentuhan dari guru pend jasmani, TIK, dan mulok Bahasa Jawa. Padahal tiap tahun minta ke diknas setempat.

    Tahun kemarin malah tempat saya dapat guru Seni, padahal guru Seni sudah ada sebelumnya, dan dg jumlah 8 kelas satu guru Seni cukup.

    Saya kira pemetaan tenaga guru di diknas yg amburadul sbg faktor penyebabnya, disamping 'permainan' yg mengakibatkan ada guru baru ditempatkan di sekolah yg tdk pas.

    BalasHapus
  14. Orang modern mempunyai kecenderungan maju.
    Dan maju itu harus ke kota...ke kota...

    BalasHapus
  15. @budi:kami sih ikhlas..tapi kalau sekolah tiap tahun selalu kekurangan guru kapan kita bisa maju..baru setahun ditempatkan udah mikir mau pindah..

    @Syafwan: nah itu..mungkin terlalu banyak tawar-menawar alias kompromi masalah penempatan CPNS sehingga yang semula udah merata jadi kacau lagi. Betul..memuakkan!

    @Erwine: betul..

    @Ifoell: bersedia ditempatkan diseluruh indonesia (asal dekat rumah) hahahah betul sekalo ironinya..

    @FA: kenapa takut..justeru daerah terpencil lebih sehat, bebas polusi, sejuk, damai, ngak banyak masalah, uang nggak cepat habis..dan bagi yang lama berkeluarga belum punya anak juga..bagus juga tuh dijadikan terapi tinggal di daerah terpencil hehehe

    @Zulmasri:kuncinya di Diknas setempat, harusnya ada aturan main yang jelas tentang penempatan guru dengan azas pemerataan dan ekonomis yang seimbang.

    @randualamsyah: maju ke kota? itulah sumber ketimpangan pembangunan dan infrastruktor di negeri ini. Sangat kota sentris, karena memang yang membuat kebijakan orang kota jadinya kota yang dibangun habis habisan. Padahal desa adalah daerah hulu..kalau gitu semua desa boikot aja jgn lagi menjual bahan makanan ke kota biar tu kota kelaparan semua...

    BalasHapus
  16. salam, pak syams
    sudah lama tak berkabar, ternyata sedang miris memikirkan nasib pendidikan di daerah terpencil.
    dengan segala pemaparan pak syams mengenai daerah terpencil, saya selalu kagum kepada orang-orang yang rela berkiprah di daerah terpencil, apa pun profesinya. saya sendiri mungkin tidak mampu seperti pak syams dan rekan-rekan.

    dan judul tulisan ini sudah bercerita sangat banyak.

    BalasHapus
  17. Terus berjuang ... perjuangan adalah kehidupan

    BalasHapus
  18. Jangan patah semangat, semoga keluhan-keluhan seperti ini dapat menjadi bahan evaluasi dari pihak pemkab agar dalam membuat formasi CPNS benar-benar sesuai kebutuhan dan menghindari penumpukan PNS disatu lokasi(tidak hanya guru, tapi semua profesi)

    BalasHapus
  19. Assalamualaikum ww,
    Perjuangan mulia pak Syams dan rekan pasti akan mendapat balasan yang setimpal, Insya Allah. Saya suatu saat kepengen ngajar juga, amin.

    BalasHapus
  20. memang sudah jadi kebiasaan buhannnya kaya itu, turun temurun klo? lalu ngalih ai handak mencari guru nang ba mental baja, nang hakun di andak diujung kampung, paling satumat imbah dilantik, tulak ka lokasi ma itihi satumat, balalu handak bapikir pindah pang mun sudah tahu kaya apa ngalihnya di kampung...mintu kah

    BalasHapus
  21. Gunung ato rawa...aq deg"an nunggu penempatn he.Tp hrus bsyukur dtmptkn dmn sj.Toch tdk byk keluhan dr teman2 yg sdh dtmptkn dst

    BalasHapus
  22. ayo guru yang lain ikut berjuang!! ikut berdoa aja ya..

    BalasHapus

Terima kasih atas komentar anda.