Tampilkan postingan dengan label Islamic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islamic. Tampilkan semua postingan

15 Desember 2008

Wisata Religi Kalsel (1)

1. Ziarah ke Makam Datu Sanggul

Kalimantan Selatan merupakan daerah yang memiliki tradisi keislaman yang kuat. Di sini terdapat "Serambi Mekkah", yakni kota Martapura di kabupaten Banjar. Martapura merupakan kota santri yang telah mencetak ribuan santri, dan ratusan ulama mumpuni.

Kuatnya akar Islam di tanah Banjar tidak lepas dari peran perjuangan para ulama dan waliyullah di masa kerajaan Banjar dahulu. Siapa tak mengenal Syekh Muhammad Arsyad al Banjary dengan kitab Sabilal Muhtadinnya. Kitab ini diterbitkan dan dipelajari tidak hanya di Indonesia tapi sampai ke manca negara seperti Malaysia dan Brunnei Darussalam.

Para wali di tanah Banjar di masa lalu sering diberi gelar Datu (gelar kehormatan di Malaysia, Datuk). Misalnya Datu Sanggul, Datu Suban, Datu Kelampayan. Sedangkan di masa sekarang ada ulama besar dan kharismatik di Kalsel, yakni Tuan Guru Sekumpul yang kini bermakam di Sekumpul Martapura.

Warga Kalsel yang ingin ziarah biasanya mengunjungi makam Guru Sekumpul, Datu Kelampayan, dan Datu Sanggul. Tiga tempat ziarah ini menjadi sering menjadi paket "wajib" bagi orang yang ingin ziarah di tanah Banjar.

Datu Sanggul merupakan gelar kehormatan kepada seorang wali Allah di tanah Banjar. Nama asli beliau adalah Abdus Shamad yang berasal dari Palembang dan hidup pada abad 18 Masehi.

Semasa muda, Abdus Shamad gemar melanglang buana menuntut ilmu Agama Islam. Setelah merantau ke berbagai negeri di seberang lautan, akhirnya sampailah beliau ke Muning, di kabupaten Tapih, Kalsel. Di sana beliau menuntut ilmu kepada seorang wali yang bernama Datu Suban.

Penyebab Abdus Shamad muda pergi ke Kalimantan untuk menuntut ilmu karena ada firasat melalui mimpi. Suatu ketika beliau bermimpi bertemu dengan seorang tua. Sambil berjabat tangan, orang tua tersebut berkata: "Jika Ananda ingin menuntut ilmu yang sejati hendaklah ananda berguru pada Datu Suban di pulau Kalimantan di Kampung Muning Pantai Jati Munggutayuh Tiwadak Gampa daerah Tatakan".

Ketaatan dan kepatuhan Abdus Shamad membuatnya menjadi murid kesayangan Datu Suban. Berbagai ilmu agama dipelajarinya hingga akhirnya Abdus Shamad menjadi seorang wali di tanah Banjar yang memiliki Kharamah luar biasa dan diberi gelar Datu Sanggul.
Kini makam beliau dapat ditemui di desa Tatakan kabupaten Tapin sekitar 500 meter dari pinggir jalan provinsi. Kompleks makam beliau oleh pemerintah dijadikan Benda Cagar Budaya yang dilindungi.

Setiap hari banyak peziarah berkunjung ke makam ini. Mereka tidak hanya datang dari kabupaten Tapin saja, tetapi dari Kalsel, Kalteng, Kalbar, Kaltim bahkan dari luar pulau Kalimantan. Bahkan terkadang ada peziarah yang datang dari Malaysia dan Brunei Darussalam.

Walaupun beliau telah wafat lebih dari 3 abad yang lampau tapi makam beliau tetap terjaga. Setiap hari banyak peziarah yang datang. Selain ziarah ke makam, di tempat itu disediakan bagian khusus buat orang yang ingin mengadakan selamatan. Disediakan air khusus untuk diminum yang telah didoakan oleh ulama setempat.

Di koridor menuju makam terdapat berbagai dagangan. Berbagai souvenir dan perlengkapan muslim dapat ditemui di sini.


(Bersambung)

09 November 2008

Rahasia Alam: Rasio Emas

Matematika adalah sebuah keindahan, sebuah seni, sebuah keseimbangan. Matematika adalah bahasa universal yang akan ditemukan dan dapat dimengerti oleh semua mahluk beradab di jagat raya. Matematika pula yang pertama kali menyingkapkan sebuah rahasia besar yang dikandung alam semesta.

Coba kita pikirkan! Apa yang sama-sama dimiliki oleh piramida di Mesir, lukisan Mona Lisa karya Leonardo da Vinci, bunga matahari, bekicot, kristal salju, DNA, bentuk bakteri mikro, hingga bentuk galaksi di jagat raya? Ternyata struktur semua benda di atas mempunyai kaidah yang sama, yakni sebuah angka yang dikenal sebagai rasio emas!

Apa itu rasio emas? Rasio emas adalah sebuah angka yang dapat diperoleh dari perbandingan ukuran pada benda di alam. Tapi untuk mengetahui asal muasalnya, kita harus mempelajari susunan angka kuno yang dinamakan Barisan Fibonacci. Angka-angka pada Barisan Fibonacci merupakan hasil penjumlahan dua angka sebelumnya.

Deret Fibonacci:
0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89, 144, 233, 377, 610, 987, 1597, 2584, ...

Apa yang anda temukan? Ternyata susunan angka di atas memiliki sifat menarik. Coba anda membagi satu angka dalam deret tersebut dengan angka sebelumnya, akan Anda dapatkan sebuah angka hasil pembagian yang besarnya sangat mendekati satu sama lain.

0 / 1 = 0,000
1 / 2 = 0,500
2 / 3 = 0,677
3 / 5 = 0,600
5 / 8 = 0,625
8 / 13 = 0,615
13/21 = 0,619
21/34 = 0,618
34/55 = 0,618
55/89 = 0,618
89/144 = 0,618 .. dst

Ternyata, angka hasil pembagian ini bernilai tetap setelah angka ke-13 dalam deret tersebut. Angka ini dikenal sebagai "golden ratio" atau "rasio emas". Semua hasil pembagian atau rasio ini semakin lama nilainya semakin mendekati 0,618. Jika barisan ini diteruskan maka rasio yang ditemukan adalah 0,618 dengan pembulatan sekian kecil hingga dapat diabaikan.

144/233= 0,618
233/377= 0,618
377/610= 0,618
610/987= 0,618
987/1597=0,618
1597/2584=0,618

Jika kita dapat menemukan sebuah angka yang merupakan hasil keseimbangan sebuah fungsi matematika, tentunya kita dapat menemukan penggunaan angka ini di alam semesta. Sekarang timbul pertanyaan: Rasio emas yang telah kita temukan dalam matematika dapatkah kita temukan di alam nyata. Misalnya dari struktur tubuh kita, bentuk organisme mikroskopis, bentuk galaksi, cangkang keong, pada kristal salju? Jawabannya akan mengejutkan anda!

Rasio Emas pada Tubuh Manusia

Jika anda seorang penikmat seni, tentu anda akan mengagumi keindahan lukisan Mona Lisa hasil karya seniman terkenal Leonardo da Vinci. Tapi tahukah anda ternyata Leonardo da Vinci dalam melukis tubuh manusia tidak sembarangan menentukan ukuran. Ternyata sang pelukis menerapkan rasio emas dalam melukis.

Hubungan kesesuaian "ideal" yang dikemukakan ada pada berbagai bagian tubuh manusia rata-rata dan yang mendekati nilai rasio emas dapat dijelaskan sebagai berikut berikut:

Berbagai perbandingan ukuran anggota tubuh kita selalu setara dengan rasio emas. M/m = 1,618. Contoh pertama dari rasio emas pada tubuh manusia rata-rata adalah jika antara pusar dan telapak kaki dianggap berjarak 1 unit, maka tinggi seorang manusia setara dengan 1,618 unit. Beberapa rasio emas lain pada tubuh manusia rata-rata adalah:

Jarak antara ujung jari dan siku/jarak antara pergelangan tangan dan siku, Jarak antara garis bahu dan unjung atas kepala/panjang kepala, Jarak antara pusar dan ujung atas kepala/jarak antara garis bahu dan ujung atas kepala, Jarak antara pusar dan lutut/jarak antara lutut dan telapak kaki.

Sekarang, pandangi tangan anda, dan lihatlah bentuk jari telunjuk Anda. Dalam segala kemungkinan akan Anda saksikan rasio emas padanya. Jari-jemari manusia memiliki tiga ruas. Perbandingan ukuran panjang dari dua ruas pertama terhadap ukuran panjang keseluruhan jari tersebut menghasilkan angka rasio emas (kecuali ibu jari). Juga dapat diihat bahwa perbandingan ukuran panjang jari tengah terhadap jari kelingking merupakan rasio emas pula.

Terdapat dua (2) tangan, dan jari-jemari yang ada padanya terdiri dari tiga (3) ruas. Terdapat lima (5) jari pada setiap tangan, dan hanya delapan (8) dari keseluruhan sepuluh jari ini tersambung menurut rasio emas: 2, 3, 5, dan 8 bersesuaian dengan angka-angka pada deret Fibonacci. Dalam wajah manusia, terdapat juga beberapa rasio emas.

Panjang wajah / lebar wajah,
Jarak antara bibir dan titik di mana kedua alis mata bertemu / panjang hidung,
Panjang wajah / jarak antara ujung rahang dan titik di mana kedua alis mata bertemu,
Panjang mulut / lebar hidung,
Lebar hidung / jarak antara kedua lubang hidung,
Jarak antara kedua pupil / jarak antara kedua alis mata.

Akan tetapi Anda tidak dianjurkan mengambil penggaris dan berusaha mengukur wajah-wajah orang, sebab hal ini merujuk pada "wajah manusia ideal" yang ditetapkan oleh para ilmuwan dan seniman.

Misalnya, jumlah lebar dua gigi depan pada rahang atas dibagi dengan tingginya menghasilkan rasio emas. Lebar gigi pertama dari tengah dibandingkan gigi kedua juga menghasilkan rasio emas. Semua ini adalah perbandingan ukuran ideal yang mungkin dipertimbangkan oleh seorang dokter.

Nah sekarang tentu anda dapat membayangkan bagaimana Leonardo da Vinci dapat melukis tubuh manusia dengan ukuran ideal menggunakan perbandingan 0,618 ini.

Rasio Emas dalam Dunia Mikro

Bentuk-bentuk geometris tidaklah terbatas pada segitiga, bujur sangkar, segilima, atau segienam. Bentuk-bentuk ini juga dapat saling bertemu dalam aneka cara dan menghasilkan bentuk geometris tiga dimensi yang baru. Kubus dan piramida adalah contoh pertama yang dapat dikemukakan. Namun, ada pula selain itu bentuk-bentuk tiga dimensi seperti tetrahedron (dengan empat sisi yang seragam), oktahedron, dodekahedron, dan ikosahedron, yang mungkin tak pernah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dan yang namanya bahkan mungkin belum pernah kita dengar. Dodekahedron tersusun atas 12 sisi berbentuk segilima, dan ikosahedron terdiri dari 20 buah sisi segitiga.

Para ilmuwan telah menemukan bahwa bentuk-bentuk ini secara matematis seluruhnya dapat berubah bentuk dari satu ke yang lain, dan perubahan ini terjadi dengan rasio yang terkait dengan rasio emas. Bentuk-bentuk tiga dimensi yang memiliki rasio emas sangatlah umum pada mikroorganisme. Banyak virus berbentuk ikosahedron. Di antara yang terkenal adalah virus Adeno. Cangkang protein dari virus Adeno tersusun atas 252 subunit protein, yang kesemuanya tersusun secara seragam.

Mengapa virus-virus memiliki bentuk-bentuk yang didasarkan pada rasio emas, yakni bentuk-bentuk yang sulit untuk kita bayangkan dalam benak kita sekalipun? A Klug, yang menemukan bentuk-bentuk ini, memaparkan:

Donald Caspar menunjukkan bahwa rancangan pada virus-virus ini dapat dijelaskan melalui keumuman bentuk simetri ikosahedral yang memungkinkan satuan-satuan pembangunnya yang seragam untuk dipasangkan satu sama lain dalam susunan yang kurang lebih sama, dengan sedikit kelenturan di dalamnya. Penjelasan Klug sekali lagi menyingkap sebuah kebenaran nyata. Terdapat perencanaan teramat teliti dan perancangan cerdas pada virus sekalipun, wujud yang dianggap para ilmuwan sebagai "salah satu makhluk hidup paling sederhana dan paling kecil."

Rasio Emas pada Kristal Salju

Rasio emas juga mewujud pada struktur kristal. Kebanyakan struktur ini teramat kecil untuk dapat dilihat dengan mata telanjang. Akan tetapi Anda dapat menyaksikan rasio emas pada serpihan salju. Ragam bentuk panjang dan pendek yang beraneka yang membangun bentuk serpihan salju, semuanya menghasilkan rasio emas.

Rasio Emas di Ruang Angkasa

Di jagat raya terdapat banyak galaksi-galaksi berbentuk pilin (spiral) yang memiliki rasio emas pada strukturnya.

Pakar keindahan asal Inggris William Charlton menjelaskan bagaimana orang-orang menyukaibentuk spiral dan telah menggunakannya selama ribuan tahun. Ia menyatakan bahwa kita menyukai bentuk spiral karena penglihatan kita dapat dengan mudah mengikuti bentuk tersebut.

Spiral yang didasarkan pada rasio emas memiliki rancangan paling tak tertandingi yang dapat Anda temukan di alam. Sejumlah contoh pertama yang dapat kita berikan adalah susunan spiral pada bunga matahari dan buah cemara. Ada lagi contoh yang merupakan penciptaan tanpa cela oleh Allah Yang Mahakuasa dan bagaimana Dia menciptakan segala sesuatu dengan ukuran: proses pertumbuhan banyak makhluk hidup berlangsung pula dalam bentuk spiral logaritmik. Bentuk-bentuk lengkung spiral ini senantiasa sama dan bentuk dasarnya tidak pernah berubah berapapun ukurannya. Tidak ada bentuk mana pun dalam matematika yang memiliki sifat ini.

Rasio Emas pada DNA

Molekul yang mengandung informasi tentang seluruh sifat-sifat fisik makhluk hidup juga telah diciptakan dalam bentuk yang didasarkan pada rasio emas. Molekul DNA, cetak biru kehidupan, didasarkan pada rasio emas. DNA tersusun atas dua rantai heliks tegaklurus yang saling berjalinan. Panjang lengkungan pada setiap rantai heliks ini adalah 34 angstroms dan lebarnya 21 angstroms. (1 angstrom adalah seperseratus juta sentimeter.) 21 dan 34 adalah dua angka Fibonacci yang berurutan.

Kalau kita mau merenung lebih dalam, ternyata hal ini telah dinyatakan oleh Al Quran sejak 14 abad yang lalu.

Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.
(QS. At Thalaaq, 65: 3)

Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.
(QS. Ar Ra'd, 13: 8)

28 September 2008

Lebaran with IT

Bulan Ramadhan hampir berakhir dan lebaran tinggal beberapa hari lagi. Sebagai orang IT kita tentu ingin mengetahui tanggal berapa kira-kira Idul Fitri tahun ini jatuh. Memang saat ini di Indonesia ada dua metode untuk menentukan awal bulan Syawal ini. Metode Hisab dan Metode Rukyat.

Metode Rukyat menentukan awal bulan Syawal atau Idul Fitri dengan cara melihat terbit tidaknya bulan baru (hilal) pada saat matahari terbenam pada akhir bulan Ramadhan. Jika hilal telah terlihat berarti besoknya adalah 1 Syawal atau lebaran. Sedangkan jika sore itu hilal belum terlihat maka besoknya masih bulan Ramadhan.

Di Indonesia ada tiga kriteria yang dipakai untuk menentukan apakah hilal terlihat berdasarkan ketinggian dari horizon saat matahari terbenam. Kriteria tersebut adalah: Rukyatul Hilal, Imkanur Rukyat dan Wujudul Hilal.

Kriteria Rukyatul hilal digunakan oleh kalangan NU mengharuskan hilal dapat terlihat. Menurut pakar astronomi Perancis, Danjon, hilal dianggap dapat terlihat jika ketinggian dari horizon minimal 7°. Sedangkan kalangan Muhammadiyah menggunakan kriteria Wujudul Hilal. Maksudnya berapapun ketinggian hilal dari horizon tidak masalah, asal sudah diatas horizon walau ketinggian kurang dari satu derajat dianggap hilal telah tampak (wujud). Pemerintah sendiri mengambil jalan tengah dengan menggunakan kriteria Imakanur Rukyat yang mensyaratkan ketinggian minimal 2° diatas horizon agar hilal terlihat. Kriteria ini hasil pertemuan Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS).

Sedangkan metode hisab adalah menentukan awal Ramadhan atau Idul Fitri dengan menggunakan perhitungan matematis dan astronomis. Berdasarkan perhitungan tersebut dapat diketahui apakah hilal telah terlihat. Perhitungan ini memiliki akurasi cukup tinggi dan menghasilkan data-data penting seperti dimana hilal akan terlihat, berapa ketinggiannya, berapa umur hilal dan sebagainya.

Berkat kemajuan teknologi komputer, saat ini kita tidak perlu bersusah payah melakukan perhitungan manual tersebut. Telah tersedia berbagai software yang dapat melakukan perhitungan awal bulan Hijriyah. Bahkan ada software yang dapat mensimulasikan keadaan langit pada saat tertentu agar kita dapat melihat gambaran keadaan hilal. Salah satu software ini adalah Stellarium yang dapat didownload secara gratis di www.stellarium.org atau disini.

Sekarang kita coba memperkirakan kapan Idul Fitri 1429 H. Caranya download dan install software Stellarium. Setelah itu, pertama-tama kita harus menentukan lokasi geografis tempat kita berada. Misalnya kita akan mensimulasikan kegiatan melihat hilal dari kota Banjarmasin. Klik ikon konfigurasi lalu isikan koordinat kota Banjarmasin, yakni 114'35" BT dan 3'19" LS.

Tentukan lokasi geografis

Selanjutnya kita tentukan waktu untuk melihat simulasi hilal. Biasanya waktu yang dipilih adalah saat matahari terbenam pada akhir Ramadhan. Untuk itu kita ambil dua perkiraan waktu simulasi yakni tanggal 29 September dan 30 September. Terlebih dahulu kita akan mencoba mensimulasikan hilal pada tanggal 29 September 2008 pukul 18:10 WITA saat matahari akan terbenam.
Pada simulasi di atas terlihat bahwa pada sore hari tangal 29 September 2009 posisi bulan lebih rendah daripada matahari. Akibatnya bulan akan terbenam terlebih dahulu daripada matahari. Oleh karena itu saat matahari terbenam posisi hilal di bawah horizon sehingga tidak memungkinkan untuk bisa dilihat walau dengan teropong sekalipun. Artinya besoknya tanggal 30 September 2008 masih terhitung bulan Ramadhan atau belum lebaran.

Nah, selanjutnya simulasi kita teruskan ke sore hari tanggal 30 September 2008 untuk melihat apakah hilal telah terlihat pada saat matahari terbenam akhir Ramadhan. Sekarang kita atur tanggal di Stellarium menjadi 30 September 2008 pukul 18:10 WITA.

Terlihat bahwa pada tanggal 30 September 2008 saat matahari akan terbenam ketinggian hilal lebih dari 10° dari horizon. Artinya kemungkinan hilal dapat dilihat saat itu sangat besar baik dengan mata telanjang maupun dengan binukoler. Kesimpulan yang dapat diambil dari simulasi ini adalah pada tanggal 30 September 2008 saat matahari terbenam ketinggian hilal di Banjarmasin lebih 10° dari horizon. Artinya jika ditinjau dari berbagai kriteria yang ada di Indonesia maka hilal dianggap terlihat sehingga besoknya tanggal 1 Oktober 2008 adalah 1 Syawal 1429 Hijriyah atau hari raya Idul Fitri.

Penetapan 1 Syawal tahun ini akan ada keseragaman jika dilihat dari berbagai kriteria yang dipakai berbagai kalangan di Indonesia. Oleh karena ketinggian hilal sudah 10° maka kriteria Rukyatul Hilal (NU), Wujudul Hilal (Muhammadiyah), serta Imkanur Rukyat (Pemerintah) akan sama. Insyaallah akan ada keseragaman penetapan 1 Syawal oleh ketiga pihak ini.

Tapi sekali lagi perlu ditegaskan bahwa ini hanyalah simulasi dengan menggunakan software komputer. Walaupun software Stellarium ini sangat akurat, bahkan sering digunakan oleh NASA, tetapi ini hanyalah simulasi. Kita sebagai orang IT hanya menganggap ini sebagai alat, kepastian sebanarnya adalah mutlak kehendak Allah semata. Tapi setidaknya kita sudah punya rujukan dan prakiraan untuk menentukan kapan, dimana hilal akan terlihat. Selanjutnya tinggal tugas kalangan ahli rukyat untuk membuktikan bahwa hilal memang benar-benar terlihat. Selanjutnya kita bisa mempersiapkan diri untuk menyambut lebaran tahun ini.

31 Agustus 2008

Prediksi Awal Ramadhan

A. KEADAAN BULAN (Hilal)

Visibilitas (kenampakan) Hilal pada hari terjadinya Ijtimak selepas matahari terbenam di seluruh dunia khususnya kawasan Indonesia ditunjukkan pada gambar peta di bawah. Peta visibilitas mengacu pada Kriteria Odeh yang mengadopsi Limit Danjon sebesar 7° yaitu jarak minimal elongasi Bulan dan Matahari agar hilal dapat diamati baik menggunakan alat optik maupun mata telanjang. Kriteria tersebut dikemas dalam sebuah software Accurate Times yang menjadi acuan pembuatan peta visibilitas ini.

Artinya:

  1. Sangat tidak mungkin daerah yang berada di bawah arsiran MERAH dapat menyaksikan hilal, sebab pada saat itu bulan terbenam lebih dulu sebelum matahari terbenam atau ijtimak lokal (topocentric conjunction) terjadi setelah matahari terbenam.

  2. Daerah yang berada pada area BIRU TUA (tak berarsiran) juga tidak memiliki peluang menyaksikan hilal walaupun menggunakan peralatan optik (binokuler/teropong) sekalipun, sebab kedudukan hilal masih sangat rendah ( <6°>

  3. Hilal baru mungkin dapat teramati menggunakan peralatan optik pada area di bawah arsiran BIRU MUDA. Pada area ini pun masih sangat sulit karena dibutuhkan kondisi langit yang sangat cerah terutama di langit Barat.

  4. Wilayah yang berada dalam arsiran UNGU hanya dapat menyaksikan hilal menggunakan peralatan optik sedangkan untuk melihat langsung dengan mata diperlukan kondisi cuaca yang sangat cerah dan ketelitian pengamatan.

  5. Hilal dengan mudah dapat disaksikan pada area di bawah arsiran HIJAU baik menggunakan mata langsung maupun terlebih menggunakan peralatan optik dengan syarat kondisi udara dan cuaca cukup baik.

  6. Peta ini dibuat dan hanya berlaku untuk daerah 60° Lintang Utara sampai 60°Lintang Selatan.


B.KETINGGIAN BULAN (Hilal) di BANJARMASIN

Ketinggian hilal dilihat di Banjarmasin saat matahari terbenam 31/8/2008

Untuk melihat ketinggian hilal di kota-kota lainnya klik di sini.


C. PERKIRAAN AWAL RAMADHAN 1429 MENURUT BERBAGAI KRITERIA

1. Menurut Kriteria Rukyat Hilal ( Limit Danjon )

Andre Danjon, seorang astronom Perancis pada 1930-an menyimpulkan bahwa Hilal tidak akan dapat diamati jika jarak minimum elongasi Bulan dan Matahari kurang dari 7°. Melihat lokasi Indonesia menurut peta visibilitas di atas, jika Limit Danjon diberlakukan maka seluruh wilayah Indonesia berpeluang tipis dan sangat sulit bahkan tidak mungkin dapat melihat hilal pada hari pertama terjadinya Ijtimak (31/8) setelah matahari terbenam. Dengan demikian awal bulan seharusnya jatuh pada:

Selasa, 2 September 2008

Namun demikian, sudah dapat diprediksi bahwa "AKAN ADA KLAIM LAPORAN RUKYAT" dari suatu tempat. Dan sesuai tradisi Sidang Itsbat maka klaim ini akan diterima karena hilal diangap pada posisi "imanurrukyat" (>2°). Pada akhirnya Pemerintah akan mengumumkan awal Ramadhan akan jatuh pada :

Senin, 1 September 2008

Kriteria ini dipakai kalangan NU dan yang menganut asas rukyatul hilal.


2. Menurut Kriteria Imkanur Rukyat

Pemerintah RI melalui pertemuan Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) menetapkan kriteria yang disebut Imkanurrukyah yang dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan bulan pada Kalender Islam negara-negara tersebut yang menyatakan :

Hilal dianggap terlihat dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah berikutnya apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut:

(1)· Ketika matahari terbenam, ketinggian bulan di atas horison tidak kurang dari 2° dan
(2). Jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3°. Atau
(3)· Ketika bulan terbenam, umur bulan tidak kurang dari 8 jam selepas ijtimak berlaku.

Menurut Peta Ketinggian Hilal di atas pada hari pertama ijtimak/konjungsi ketiga syarat tersebut terpenuhi. Dengan demikian awal bulan akan jatuh pada :

Senin, 1 September 2008

Kriteria ini dipakai oleh pemerintah, cq Departemen Agama RI.


3. Menurut Kriteria Wujudul Hilal

Kriteria Wujudul Hilal dalam penentuan awal bulan Hijriyah menyatakan bahwa : "Jika setelah terjadi ijtimak, bulan terbenam setelah terbenamnya matahari maka malam itu ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah tanpa melihat berapapun sudut ketinggian bulan saat matahari terbenam. Berdasarkan posisi hilal saat matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia maka syarat wujudul hilal sudah terpenuhi di seluruh wilayah Indonesia. Dengan demikian awal bulan akan jatuh pada :

Senin, 1 September 2008

Kriteria ini dipakai oleh kalangan Muhammadiyah.


4. Menurut Kriteria Kalender Hijriyah Global

Universal Hejri Calendar (UHC) merupakan Kalender Hijriyah Global usulan dari Komite Mawaqit dari Arab Union for Astronomy and Space Sciences (AUASS) berdasarkan hasil Konferensi Ke-2 Atronomi Islam di Amman Jordania pada tahun 2001. Kalender universal ini membagi wilayah dunia menjadi 2 region sehingga sering disebut Bizonal Hejri Calendar. Zona Timur meliputi 180° BT ~ 20° BB sedangkan Zona Barat meliputi 20° BB ~ Benua Amerika. Adapun kriteria yang digunakan tetap mengacu pada visibilitas hilal (Limit Danjon).

Baik zona Timur maupun Barat sama-sama berpeluang untuk berhasil rukyat pada hari pertama terjadinya Ijtimak walau harus menggunakan peralatan optik. Dengan demikian awal bulan di masing-masing zona akan jatuh pada :

Zona Timur :
Senin, 1 September 2008

Zona Barat :
Senin, 1 September 2008

5. Menurut Kriteria Saudi

Kurangnya pemahaman terhadap perkembangan dan modernisasi ilmu falak yang dimiliki oleh para perukyat sering menyebabkan terjadinya kesalahan identifikasi terhadap obyek yang disebut "hilal" baik berupa kasus "SALAH YANG DILIHAT" maupun "BOHONG YANG DILIHAT". Klaim terhadap kenampakan hilal oleh seeorang atau kelompok perukyat pada saat hilal masih berada di bawah "limit visibilitas" atau bahkan saat hilal sudah di bawah ufuk sering terjadi. Sudah bukan berita baru lagi bahwa Saudi kerap kali melakukan istbat terhadap laporan rukyat yang "kontroversi" karena kasus tersebut.

Kalender resmi Saudi yang dinamakan "Ummul Qura" yang telah berkali-kali mengganti kriterianya hanya diperuntukkan sebagai kalender untuk kepentingan non ibadah. Sementara untuk keperluan ibadah Saudi tetap menggunakan rukyat hilal bil fi'li dan bil syar'i sebagai dasar penetapannya. Sayangnya, penetapan ini sering hanya berdasarkan pada laporan rukyat dari seseorang saksi tanpa terlebih dahulu melakukan klarifikasi dan konfirmasi terhadap kebenaran laporan tersebut apalagi melakukan uji kompetensi terhadap saksi. Perhitungan astronomis (hisab) yang telah terbukti akurasinya tidak dimanfaatkan sebagai kontrol terhadap kebenaran laporan saksi. Apakah ini akan berlangsung selamanya?

Kalender Ummul Qura' :

Kalender ini digunakan Saudi bagi kepentingan publik non ibadah. Kriteria yang digunakan adalah "Telah terjadi ijtimak dan bulan terbenam setelah matahari terbenam di Makkah" maka sore itu dinyatakan sebagai awal bulan baru.

Pada hari pertama ijtimak/konjungsi di Saudi (30/8) kondisinya belum memenuhi syarat.

Dengan demikian istikmal dan awal bulan akan jatuh pada :
Senin, 1 September 2008

Kriteria Rukyatul Hilal Saudi :

Rukyatul hilal digunakan Saudi khusus untuk penentuan bulan awal Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah. Kaidahnya sederhana "Jika ada laporan rukyat dari seorang atau lebih pengamat/saksi yang dianggap jujur dan bersedia disumpah maka sudah cukup sebagai dasar untuk menentukan awal bulan tanpa perlu perlu dilakukan uji sains terhadap kebenaran laporan tersebut".

Menurut Danjon, ada peluang rukyat di Saudi pada hari kedua ijtimak (31/6). Dengan demikian awal bulan akan jatuh pada :

Senin, 1 September 2008

Namun demikian pada 31/8 ketinggian hilal sangat ekstrim yaitu hanya 3,9° sehingga peluang rukyat di Saudi adalah sangat kecil atau bahkan tidak mungkin. Mengacu kepada kriteria rukyatul hilal (actual sighting) maka awal bulan seharusnya jatuh pada :

Selasa, 2 September 2008


D. KESIMPULAN

Berdasarkan perkiraan hasil hisab memakai alat teknologi di atas, kemungkinan awal Ramadhan akan sama antara penganut metode rukyah dan metode hisab. Mudah-mudahan tahun ini semua ummat Islam di Indonesia memiliki kesatuan dalam hal awal Ramadhan dan Idul Fitri.

Sumber: www.rukyatulhilal.org

Parade Tokoh / Fisikawan Menuju ToE

Parade Tokoh dan Teori Menuju Theory of Everything (ToE) ⚗️ Era Awal – Fondasi Konsep Atom dan Hukum Alam (1600–1800) 1. John Dalton (176...