Tampilkan postingan dengan label Masalah Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masalah Pendidikan. Tampilkan semua postingan

03 Juli 2025

Jam Belajar Era Baru: Dari Waktu Kerja Guru ke Ritme Otak Siswa

 

Jam pelajaran di sekolah kita saat ini masih menggunakan acuan lama: 35 menit untuk SD, 40 menit untuk SMP, dan 45 menit untuk SMA. Angka-angka ini sudah sangat mapan dalam sistem pendidikan kita. Tapi pertanyaannya: apakah durasi ini ditentukan berdasarkan cara kerja otak anak, atau sekadar hasil kompromi administratif untuk mengatur beban kerja guru?

Selama puluhan tahun, jam pelajaran didefinisikan oleh kebutuhan sistem, bukan kebutuhan belajar siswa. Ia lebih mencerminkan logika industrial—di mana waktu dikelola demi efisiensi institusi—bukan logika pembelajaran yang berpusat pada siswa. Faktanya, para ahli neurosains dan psikologi pendidikan telah lama menyatakan bahwa rentang perhatian (attention span) siswa jauh lebih pendek dari yang diasumsikan sistem pendidikan saat ini.

Riset menunjukkan bahwa anak SD hanya mampu fokus selama 10–15 menit, siswa SMP sekitar 15–20 menit, dan siswa SMA maksimal 25–30 menit sebelum otaknya mengalami kejenuhan dan penurunan daya serap. Jika proses belajar dipaksakan melampaui batas alami ini tanpa jeda aktif atau interaksi, maka alih-alih memperdalam pemahaman, pelajaran hanya akan lewat begitu saja tanpa jejak bermakna.

Namun, sistem pendidikan kita terus mempertahankan durasi tetap untuk semua pelajaran, semua usia, dan semua konteks. Hal ini bukan hanya tidak efisien, tetapi juga tidak adil bagi perkembangan mental dan kognitif siswa. Di saat dunia digital menyediakan pengalaman belajar yang cepat, interaktif, dan fleksibel, sekolah masih terjebak pada pola ceramah panjang dan linier.

Sudah saatnya kita membangun paradigma baru. Jam belajar seharusnya dirancang mengikuti irama otak siswa, bukan semata-mata durasi kerja guru. Belajar tidak harus lama, yang penting adalah efektivitas dan kedalaman. Dunia kerja modern bahkan telah mengadopsi metode “short learning burst”, di mana sesi belajar dibagi menjadi blok pendek 15–25 menit, diselingi refleksi atau aktivitas ringan. Cara ini terbukti meningkatkan fokus dan retensi informasi.

Sebagai contoh, durasi optimal untuk siswa SD kelas awal sebaiknya hanya 20–25 menit, SD kelas atas 30 menit, SMP 30–35 menit, dan SMA cukup 35–40 menit. Waktu belajar bisa dibagi menjadi dua sesi pendek dalam satu jam, dengan jeda aktif seperti permainan edukatif, diskusi kelompok kecil, atau aktivitas fisik ringan. Guru tidak perlu mengajar lebih sedikit, tetapi mengajar lebih adaptif.

Jika kita terus mempertahankan durasi jam pelajaran berdasarkan kalender administratif, maka kita sedang memaksa generasi digital belajar dalam sistem analog. Di saat siswa sudah terbiasa belajar melalui video pendek, kuis interaktif, dan diskusi daring, mereka akan merasa terasing di ruang kelas yang hanya mengandalkan ceramah satu arah.

Anak-anak kita belajar dengan kecepatan digital, sementara kita masih mengajar dengan kecepatan mesin tik. Sudah waktunya pendidikan kita tidak hanya berganti kurikulum, tetapi juga mengubah cara dan waktu belajar. Mari kita ubah pandangan bahwa jam pelajaran adalah waktu kerja guru, dan mulai menempatkannya sebagai irama alami otak belajar anak-anak kita.

04 Januari 2009

Pelatihan PAS di SMAN 1 Simpur

Hari Jumat tanggal 18 Desember 2008 saya di undang ke SMAN 1 Simpur sebagai nara sumber salah satu kegiatan In House Training (IHT). Tugas saya melatih staf TU dan Guru TIK untuk menjalankan PAS SMA.

Gambar 1: Menjalankan PAS SMA

Paket Aplikasi Sekolah (PAS) merupakan sebuah software aplikasi untuk adminstrasi sekolah. Software ini dikirimkan ke sekolah-sekolah oleh Direktorat Pembinaan SMA Depdiknas. Berbagai kegiatan administrasi sekolah dapat diaplikasikan dalam PAS SMA. Mulai dari Penerimaan Siswa Baru(PSB), administrasi pegawai, administrasi siswa, akademik, keuangan, hingga raport dapat dikelolah dengan PAS SMA. Salah satu fitur canggih di PAS SMA versi terakhir adalah adanya dukungan SMS server. Fasilitas SMS server ini memungkinkan orang tua siswa mengakses nilai, absensi, dan keuangan anaknya di sekolah lewat SMS.

Gambar 2: Staf TU dan Guru SMAN 1 Simpur Belajar PAS SMA

Saya tiba di tempat pukul 08:00 Wita dan diterima oleh Kepala SMAN 1 Simpur, Drs. M. Said. Beliau berbincang dan memaparkan visi beliau tentang pemanfaatan PAS SMA untuk mempermudah adminstrasi di sekolah ini. Sekolah beliau saat ini sedang dalam proses menjadi salah satu sekolah berstandar nasional. Oleh karena itu pemanfaatan PAS dalam proses administrasi menjadi hal penting guna peningkatan mutu pendidikan.

Gambar 3: Suasana IHT PAS SMAN 1 Simpur

Kegiatan pelatihan ini dimulai pukul 08:30 Wita. Materi pertama adalah latihan menginstall sofware PAS SMA. Beberapa staf TU dan Guru TIK bergantian belajar menginstall software ini disertai penjelasan setting awal program. Mereka saya berikan CD PAS SMA agar di lain hari bisa menginstall sendiri.

Setelah proses instalasi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan materi entri data. Data referensi nasional sebagai data awal sudah ada dalam PAS jadi tidak perlu dientri. Sekolah hanya perlu mengentri data referensi sekolah dan data periodik. Data periodik meliputi data tahunan dan data periodik persemester. Jika proses entri data ini diikuti sesuai urutan dan berdasarkan tata laksana sekolah maka kegiatan akan sukses. Pertama entri data memang berat karena banyaknya data awal dan data periodik yang harus dimasukan. Tapi setelah itu sekolah akan sangat terbantu proses administrasinya menjadi cepat, efektif dan efisien.

Semoga makin banyak sekolah yang sadar pentingnya pemanfaatan teknologi informasi dalam proses adminstrasi sekolah. Khususnya memanfaatkan PAS untuk administrasi sekolah masing-masing.

02 Desember 2008

Oemar Bakrie di Garis Depan

Bertepatan dengan Hari Jadi kabupaten HSS yang ke-58, kondisi medan jalan ke Daha Barat makin seru. Jalan satu-satunya yang menghubungkan kecamatan Daha Barat (Bajayau) ke dunia luar rusak parah. Badan jalan yang terdiri dari urukan tanah yang dilapisi sedikit batu kerikil yang diguyur hujan kondisinya mirip adonan. Berlumpur, penuh kubangan sedangkan kiri-kanan adalah rawa.

Lihatlah perjuangan berat pengendara motor di bawah ini untuk sampai ke tempat tugas di Daha Barat. Pasti anda berpikir dia adalah PPL atau Petugas Penyuluh Lapangan. Pakai sepatu bots, celana karet, jaket, motor "laki" yang biasa dipakai dipegunungan atau jalan berlumpur. Ups, tunggu dulu, anda salah, dia bukan PPL tapi seorang "Oemar Bakrie" yang akan berangkat ke SMPN 2 Daha Selatan. Terpaksa pergi ke sekolah pakai sepatu bots karena keadaan medan yang berat.

Jalan yang menghubungkan Daha Selatan (Kota Nagara) dengan Daha Barat (Bajayau) ini melintasi daerah rawa sejauh 10 km. Di kanan-kiri adalah rawa dan hutan kayu Galam. Lihatlah, apa ada rumah penduduk. Yang ada hanya satu buah jukung nelayan pergi mencari ikan dan gelegar mesin excavator di kejauhan yang sedang menggarap plaswa kelapa sawit. Perjalanan yang "hanya" 10 km ini terpaksa ditempuh dalam waktu hampir satu jam. Kadang sepeda motor terpeleset, terputar-putar, amblas, mogok, hingga jatuh di tepi sungai karena jalan yang licin dan berlubang. Padahal jarak 10 km kalau jalannya normal dan mulus paling lama 15 menit sudah sampai.

Kondisi jalan yang sunyi menyebabkan keamanan menjadi faktor yang harus dipertimbangkan. Memang dulu pernah terjadi, orang pulang jualan naik motor di rampok ditengah jalan. Belum lagi jika ban kempes atau motor mogok, duh susahnya. Oleh karena itu, para guru dan pegawai pemerintah lainnya yang naik motor ke Daha Barat jarang pergi sendirian. Biasanya berboncengan 2 orang atau berkonvoi 2 atau 3 motor.

Bertepatan dengan momen hari jadi kabupaten HSS tercinta ini, kami segenap pengguna jalan ke Bajayau mengharapkan perhatian dari pemerintah. Mohon segera diperbaiki, baik itu pengerasan atau pengaspalan. Sebagai kecamatan termuda, Daha Barat mengharapkan perhatian lebih dalam bentuk pembangunan infrastruktur agar Bajayau tidak lagi menjadi daerah terpencil dan terisolasi.

Catatan:
Pulang pergi dari Kandangan ke Bajayau:
  • Jarak ditempuh pulang pergi 100 km (terbaca di odometer sepeda motor saya)
  • Bensin kurang lebih 2 liter (bisa lebih kalau kondisi jalan basah berlumpur)
  • Waktu kurang lebih 3 jam (belum termasuk singgah untuk makan dan istirahat)

29 Juli 2008

Daerah Terpencil Takkan Maju?


Seorang pensiunan guru dan mantan penilik sekolah yang kenyang makan asam garam mengajar di daerah terpencil pernah berkata yang selalu menjadi bahan pikiran saya. "Sampai kapanpun, pendidikan di daerah terpencil tidak akan maju!". Saya terkejut mendengar perkataan beliau yang nampaknya seperti sebuah rasa pesimis atau bahkan mungkin sebuah ungkapan untuk memacu semangat kaum muda. Di balik perkataan beliau yang bernada pesimis ternyata tersirat berbagai bukti di lapangan yang pernah dialami oleh beliau sendiri.

Sekarang kita kita lihat hasil UN di daerah pinggiran dan terpencil, lihat lagi sarana dan prasarana yang ada. Kalau mau teliti lagi, lihat perbandingan jumlah guru antara sekolah di kota dan di daerah terpencil. Cari tahu juga, proyek rehab sekolah dan proyek lainnya kebanyakan diperoleh sekolah di kota atau di daerah pinggiran. Kalau anda telah mengetahuinya tentu anda akan setuju dengan pendapat awal saya bahwa pendidikan di daerah terpencil untuk saat ini masih kalah maju dibandingkan dengan pendidikan di kota.

1. Kekurangan Guru
Guru yang baru di angkat biasanya ditempatkan di daerah terpencil. Alasannya sederahana saja, karena di daerah terpencil banyak kekurangan guru. Harusnya dengan adanya drop guru baru yang masih fresh graduate dan berdedikasi tinggi ini pendidikan di daerah terpencil cepat maju.

Kenyataanya tidaklah demikian. Kebanyakan guru yang ditempatkan di daerah terpencil selalu terpikir untuk cepat-cepat pindah ke kota atau ke daerah kelahirannya. Di daerah paling ujung kecamatan Daha Barat terdapat sebuah SD. Dulunya di SD ini hanya ada 2 orang guru PNS dan beberapa guru honorer. Tapi 2 tahun belakangan ini banyak ditempatkan guru baru dan muda-muda. Tapi tidak sampai 5 tahun guru baru tersebut sudah pindah tugas atau masih dalam proses mengajukan berkas pindah.

Ada Ibu guru isteri Polisi pindah tugas dengan cepat karena mengikuti suami dan berbagai alasan "logis" lainnya. Akibatnya kembali terjadi kekurangan guru di SD tersebut seperti saat-saat sebelumnya.

Sebaliknya ada SD di kota yang jumlah gurunya 18 orang sedangkan kelasnya cuma 6 buah kelas. Apakah jumlah guru SD harus sedemikian banyaknya. Tentu tidak bukan. Jadi kenapa? Tentu saja karena banyak guru yang pindah ke SD tersebut. Atau ada guru "abadi" yang sejak mula diangkat di jaman bahaeula hingga sekarang tidak pindah-pindah karena keenakan.

Secara psikologis, alasan orang melakukan sesuatu hal ada dua. Pertama karena hal tersebut menguntungkan. Atau kedua untuk mengurangi kerugian. Jadi kalau dilihat dari aspek ini, tidak betahnya guru mengajar di daerah terpencil karena menganggap:
1. Mengajar di daerah terpencil merugikan.
2. Mengajar di daerah perkotaan menguntungkan.
Jadi wajar saja kebanyakan guru tidak betah mengajar di daerah terpencil dan selalu ingin pindah tanpa memikirkan bagaimana keadaan murid-muridnya setelah ditinggalkan.

Apakah hal ini melulu kesalahan guru? Tentu tidak. Sebagai sebuah sistem, pendidiakan juga dipengaruhi oleh banyak faktor. Diantaranya faktor kebijakan pemerintah dalam hal ini Pemerintah Daerah atau Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.

Menurut pendapat saya yang bodoh ini, untuk mengatasi kekurangan guru di daerah terpencil pemecahannya sederhana saja. Tidak perlu mengadakan mutasi / rolling besar-besaran guru kota ke daerah pinggiran. Rolling ini akan menimbulkan gejolak sosial yang besar karena guru di daerah perkotaan sudah "terlena" dengan kemudahan mengajar di kota, kok tiba-tiba harus bersusah payah pergi ke daerah pinggiran.

Caranya: Buat sebuah kebijakan yang membuat guru tertarik mengajar di daerah terpencil. Kebijakan ini bisa berupa penghargaan materi atau non materi.

Penghargaan materi bisa berupa insentif mengajar di daerah terpencil. Misal di kabupaten HSS, guru mengajar di daerah terpencil akan memperoleh tunjangan sebesar Rp.300 ribu perbulan. Walaupun menurut guru-guru di sana jumlah tersebut masih belum bisa menutupi ongkos transprot/ biaya bensin untuk pergi ke tempat tugas selama sebulan.

Jadi kalau mau serius memikirkan kemajuan pendidikan daerah terpencil, Sang Bupati Pilihan Rakyat harusnya memberikan insentif yang "sulit ditolak" guru. Misalnya tunjangan satu kali gaji pokok. Jangan beralasan keterbatasan anggaran. Untuk memberikan insentif guru terpencil tidaklah terlalu besar jumlahnya karena jumlah guru di daerah terpencil sedikit sekali. Buktinya, membeli mobil dinas yang mewah untuk pejabat kok bisa saja, kenapa untuk pendidikan belum bisa.

Tapi kalau daerah sangat miskin sehingga tidak bisa memberikan insentif tersebut, bisa juga insentifnya berupa penghargaan. Misalnya saja guru yang mengajar di daerah terpencil diberi angka kredit untuk kenaikan pangkat. Atau bisa juga guru di daerah terpencil otomatis lulus sertifikasi guru. Atau guru yang telah mengajar di daerah terpencil otomatis naik pangkat dalam waktu yang cepat. Kan tidak banyak memakan biaya.

Kalau insentif materi atau non materi ini dianggap "menguntungkan" tentu saja guru-guru "sulit menolak". Akibatnya tidak perlu diminta, mereka akan mengajukan diri mengajar di daerah terpencil. Tak perlu mutasi, tak perlu rolling dengan paksaan.

2. Kekurangan Sarana dan Prasarana.
Daerah terpencil atau pinggiran adalah daerah yang "tidak terlihat" dan "tidak perlu dilihat". Sehingga bagaimanapun parahnya kerusakan bangunan sekolah, maka hal ini tidak begitu terekspos ke luar sehingga tidak menjadi perhatian.

Jadi biasanya, proyek rehab cepat didapat oleh sekolah di kota. Sebaliknya sekolah pinggiran hampir rubuh baru di rehab. Kalau ada drop sarana, prasarana atau buku-buku selalu terlambat dinikmati daerah pinggiran. Malah terkadang sekolah pinggiran bisa memperoleh sarana-prasarana yang merupakan sisa dari sarana di kota.

Alasannya bisa bermacam-macam. Bisa karena alasan geografis berupa medan yang sulit dicapai transportasi. Atau alasan kependudukan: jumlah penduduk yang sedikit (tidak menguntungkan dalam hitung-hitungan politik pilkada). Atau dianggap daerah terpencil masyarakatnya tidak banyak menuntut atau tidak banyak mengeluh karena kepolosan dan kebodohan mereka. Atau karena politik "mercu suar" seperti jaman Soekarno. Pokoknya bangun dahulu kota agar gemerlap dan mentereng, urusan daerah pinggiran belakangan.

3. Lemahnya Pengawasan
Kondisi geografis yang membuat daerah menajadi terpencil. Bisa berupa pegunungan seperti daerah Loksado di HSS. Bisa berupa daerah rawa seperti di Bajayau. Oleh karena itu diperlukan waktu dan tenaga untuk mencapai daerah tersebut dari kota.

Pengawas sekolah dan pengawas guru mata pelajaran biasanya jarang datang ke daerah terpencil. Selama saya mengajar 5 tahun di daerah terpencil, kedatangan pengawas sekolah bisa dihitung dengan jari sebelah tangan saja. Begitu pula kehadiran kepala sekolah tidak setiap hari.

Akibatnya kinerja guru dan keadaan murid kurang diperhatikan. Kondisi sarana dan prasarana kurang cepat diketahui kerusakannya. Guru yang rajin jarang dapat tetap bertahan kerajinannya jika tidak memperoleh apresiasi dan penghargaan yang layak. Demikian pula guru yang malas akan bertambah kemalasannya karena tidak ada yang mengawasi. Akhirnya terjadi "musim koler" (musim malas) atau kemalasan berjamaah.

Demikian pula pengawasan dari masyarakat sangat kurang. Biasanya komite sekolah yang dibentuk didaerah terpencil memiliki kepengurusan seadanya bahkan tidak jarang ada yang fiktif. Mungkin karena jarang ada tokoh masyarakan yang peduli pendidikan. Buktinya bila diundang rapat orang tua siswa yang hadir sangat sedikit. Akibatnya fungsi pengawasan komite sekolah tidak bisa berjalan.

Jadi jika keadaan ini tidak berubah, maka kemajuan pendidikan di daerah terpencil akan selalu jalan di tempat. Tidak berlebihan jika ada ungkapan "Pendidikan di daerah terpencil takkan pernah maju".

25 Juli 2008

Hello Schools! Mana Databasemu?


Saat ini, hampir semua lembaga pendidikan mulai ramai-ramai menggunakan TI dalam dunia pendidikan. Entah itu sekedar ikut-ikutan biar dikatakan modern atau memang sungguh-sungguh memanfaatkan TI semaksimal mungkin untuk menunjang proses pendidikan.

Akan tetapi ada anggapan TI itu sama dengan internet. TI itu sama dengan lab komputer. TI itu sama dengan mengetik di MS Word atau membuat sheet di XL. TI itu sama dengan email. Sehingga bila sudah memiliki atau mempunyai salah satu dari hal tersebut sudah bisa dikatakan ikut kemajuan zaman menggunakan TI.

Saya tidak menyalahkan paradigma di atas. Hanya saja ada hal penting yang tidak kita tiru dari pemanfaatan TI di lembaga pendidikan luar negeri yang telah maju. Apakah itu? yakni kita belum mempunyai sistem DATABASE di sekolah kita.

Coba simak kisah masa kecil dan masa sekolah Bill Gates bersama Paul Allen, banyak diisi kegiatan mereka mempelajari dan mengoprek komputer sekolah yang pada saat itu masih berbentuk mainframe (besar seperti lemari). Ternyata fungsi utama komputer sekolah saat itu sebagai server database untuk menyimpan data-data pendidikan. Padahal itu terjadi puluhan tahun lalu, jangan ditanya lagi keadaan sekarang di Amerika. Hampir semua sekolah mempunya server database yang canggih dan terhubung ke jaringan internet global.

Sekarang coba kita pikir. Di sekolah kita komputer sudah ada bahkan banyak sekolah yang memiliki puluhan komputer di lab komputernya. Tapi coba tanya mereka, mana server databasenya? Apa saja data yang disimpan? Program aplikasi apa yang digunakan untuk mengakses database tersebut? Jawabannya...tidak tahu... Karena memang banyak yang belum tahu, belum menyadari arti pentingnya database bagi sekolah.

Jadi gimana dong? Gampang saja solusinya. Untuk membuat server database, ada beberapa hal yang harus kita sediakan:

  1. hardware (PC biasa atau Server khusus)
  2. software server database (MySQL-gratis  atau MS Access-bayar)
  3. Aplikasi pengakses database (Aplikasi web atau aplikasi desktop)
  4. Jaringan Komputer (kalau ada atau semua diinstall di satu komputer saja)

OK, sampai di sini dahulu. Pada posting berikutnya akan dibahas implementasi hardware, software, membuat aplikasi dan jaringannya.

24 Desember 2007

Suka Duka Mengajar di Daerah Terpencil

Saya bertugas mengajar di daerah rawa yang termasuk kategori sangat terpencil di kabupaten Hulu Sungai Selatan. Nama tempat ini adalah Bajayau. Di Bajayau semua tempat terdiri dari lahan rawa yang sangat luas membentang dari Amuntai, Kandangan, Rantau, Martapura hingga Marabahan dan Muara Teweh. Siswa di tempat saya ini, kalau pergi ke sekolah semuanya harus naik kelotok yang merupakan kendaraan air satu-satunya yang dapat mengantarkan mereka ke sekolah. Segi positifnya mereka naik kelotok ini, tidak ada istilah siswa pulang lebih dulu, karena kalau pulang harus sama-sama di kelotok ini. Segi negatifnya, kalau pas kelotoknya mengalami kerusakan, ya....semua siswa di kelotok tersebut tidak dapat hadir ke sekolah.

Perjalanan ke tempat tugas saya, dimulai dari ibukota kabupaten, yakni kota Kandangan. Dari Kandangan biasanya saya naik sepeda motor sejauh 35 Km ke Nagara, ibukota kecamatan yang masih dapat dijangkau angkutan darat. Untuk sampai di Bajayau, saya harus naik kelotok lagi selama 1,5 jam menyusuri sungai Nagara ke arah Hilir. Nagara merupakan kota industri yang lumayan maju. Penduduknya sebagian besar hidup dari usaha kerajinan logam dan berdagang. Jangan heran jika anda pergi ke Nagara, anda akan mendengarkan denting suara logam yang ditempa di setiap sudut kota. Bahkan ada humor segar: "Andaikata ada pesawat terbang yang jatuh di Nagara, maka KNKT tidak akan dapat menemukan bangkai pesawat tersebut..? Karena telah habis diambil dan diolah oleh pengrajin logam menjadi berbagai peralatan seperti wajan, panci, dan lain-lain.".

Perjalanan dari Nagara sampai ke Bajayau menyusuri sungai ke arah hilir naik kelotok 1,5 jam mempunyai arti tersendiri. Di kelotok ini berkumpul semua PNS yang senasib seperjuangan di 'garis depan'. Guru, bidan, dokter, perawat, dan lain-lain memenuhi kelotok yang kecil. Akibatnya setelah ruang bawah penuh, ya...terpaksa deh kami duduk di atas atap kelotok sambil bercerita mengenai perjuangan di 'garis depan'. Oleh sebab itu, para PNS di sini menjadi akrab, saling mengenal, karena selalu bertemu jika akan berangkat ke tempat tugas. Mungkin rasa senasib sepenanggungan 'di garis depan' ini lah yang membedakan dengan PNS di kota yang kadang saling acuh tak acuh karena jarang bertemu.

Sepanjang perjalanan, kami seolah melihat gambaran kehidupan masyakat yang lengkap. Dari kota terlihat masyarakat yang maju, canggih, individualistik. Terus ke 'garis depan' kami mendapati masyarakat yang masih terbelakang, sederhana tapi penuh kekeluargaan. Rumah mereka terletak di tepi sungai, tanpa listrik, tanpa air ledeng, tanpa TV. Kemana-mana naik kelotok. Sungguh kehidupan yang masih belum terjangkau gegap gempita pembangunan. Tapi mereka tidak mengeluh, terus berusaha sendiri, tidak demo, tidak mengajukan 'class action' kepada pemerintah, kenapa daerahnya belum terjangkau pembangunan.

Setelah sampai di tempat tugas, SMP Negeri 2 Daha Selatan hilanglah segala penat dan letih di perjalanan. Tempat ini seolah menjadi tempat yang mengasyikkan. Sekeliling bangunannya di atas air rawa yang dipenuhi berbagai macam ikan. Di sini tidak ada polusi dan udaranya masih segar. Lingkungannya tenang tanpa suara bising kendaraan bermotor seperti di kota besar. Siswa-siswanya sangat penurut pada guru. Yaah..mungkin karena belum banyak terpengaruh 'tayangan buruk' di televisi sehingga mereka sangat menghormati guru.

Jangan anda berfikir, bagaimana kami melakukan upacara bendera, apa berdiri di atas air? Tidak, kami memiliki lapangan luas yang dibangun di atas air tepat di tengah-tengah bangunan sekolah. Lihat saja siswa-siswi kami, keren kan? tidak kalah penampilannya dengan di kota. Oh, ya sepatu yang mereka pakai seragam, merupakan bantuan dari Bank BPD Kalsel cabang Kandangan yang sangat penduli dengan pendidikan. Kalau topi yang mereka pakai merupakan bantuan dari Dinas Pendidikan Kabupaten HSS. Kemudian lambang dan emblem merupakan swadaya sekolah yang dibeli dari dana BOS. Sekedar di ketahui, siswa-siswi kami kebanyakan dari masyarakat miskin. Jangankan untuk membeli sepatu, untuk makan saja mereka masih kesulitan. Jadi Bapak kepala sekolah harus memutar otak bagaimana supaya seragam sekolah lengkap seperti di kota.

Tapi Bapak dan Ibu Guru di SMPN 2 Daha Selatan sudah canggih lho. Lihat saja, di samping ini Bapak Wakasek yang lagi mengajar. Ada 2 laptop di depan beliau sehingga kalau menjelaskan materi pelajaran bisa ditayangkan di dinding memakai LCD proyektor. Itulah komitmen kami agar tidak ketinggalan dengan di bidang IT. Laptop sekolah dan proyektor kami beli setelah dapat bantuan dana Schollgrant. Kalau yang satunya lagi, laptop pribadi yang dibeli dengan uang kantong sendiri. Yaaah..terkadang kami harus kredit di Bank, tapi nggak apa-apa demi kemajuan diri dan kemajuan anak didik. No problem lah. Tapi idealnya pemerintah harus turut memikirkan bagaimana agar guru di daerah terpencil maju. Misalnya bagi-bagi laptop gratis. Kan enak...!

Saya tinggal dan menginap di Bajayau. Pemerintah berbaik hati membuatkan rumah dinas yang lumayan 'mungil'. Rumah ini juga di atas rawa, jadi kalau siang panas sekali dan kalau malam dingin sekali akibat adanya air di bawah rumah. Gangguan lain adalah nyamuk yang menjadi salah satu 'ikon' daerah terpencil. Kalau malam terkadang terdengar suara gemuruh 'konvoi' nyamuk yang lagi lewat di atas rumah. Saking banyaknya nyamuk ini, saya pernah memakannya. Lho? bukan sengaja sih, tapi pas waktu makan malam mulut terbuka, ada nyamuk masuk. Yaa... sekalian aja tertelan sama makanan. he.he.he.

Akhirnya, kalau dipikir-pikir, susah juga mengajar di 'garis depan'. Banyak memerlukan pengorbanan waktu, tenaga dan biaya. Jauh dari keramaian dunia, jauh dari gegap gempita kemajuan teknologi, terkadang kurang diperhatikan. Tapi kalau melihat anak didik yang masih polos, melihat semangat mereka belajar, melihat tatapan penuh harap dari bocah daerah terpencil, rasanya hati ini ingin selalu datang dan bertugas di sini. Terkadang memang ada tawaran untuk pindah ke kota, tapi saya tolak karena terlanjur 'jatuh cinta' mengajar di daerah terpencil.

12 November 2007

Menjadi Guru: Lain teori di kampus, lain keadaan di lapangan



Ada gurauan seorang teman yang sepertinya mewakili keadaan saya sebagai seorang guru. "Kalau kita mengajar maka hanya 10% ilmu di kampus yang dapat diterapkan di lapangan, sisanya 90% harus belajar sendiri".

Saya merenung dan merasakan apa benar hal ini terjadi pada diri sendiri. Sejak menjadi guru sekitar 4 tahun yang lalu, ternyata banyak hal yang terpaksa harus belajar sendiri. Ilmu yang saya butuhkan untuk menghadapi tugas di lapangan sebagai guru ternyata tidak mencukupi dari apa yang saya peroleh di bangku kuliah.


Yaah, mungkin saya termasuk orang kategori malas, sehingga sewaktu kuliah kurang belajar atau menimba ilmu dari dosen yang susah dicari di kampus, karena selalu terbang (dosen terbang). Mungkin saya orang yang kurang suka ke perpustakaan kampus yang koleksi bukunya hanya dapat dipinjam 2 hari. Tapi itulah hal yang sudah terjadi, sampai disitulah kemampuan saya kuliah. Walaupun akhirnya setelah menjadi guru, terpaksa harus rajin kembali buka-buka buku, bertapa di perpustakaan bahkan bertanya dan berguru pada guru yang lebih senior karena ilmu yang ada sangat kurang untuk menjadi guru.

Misalnya tentang administrasi dan perencanaan mengajar. Ternyata materi, format, bentuk dan contoh perangkat mengajar yang diperoleh di bangku kuliah tidak sama dengan yang ada di sekolah. Format tersebut tidak disetujui oleh pengawas.

Akibatnya sewaktu diminta oleh dinas pendidikan membuat dan mengumpulkan berkas administrasi mengajar terpaksa membuat berdasarkan format yang dipinjam dari guru senior, bukan memakai format yang ada di bangku kuliah.

Demikian juga dengan strategi mengajar. Sewaktu kuliah ada sih mata kuliah STRATEGI PEMBELAJARAN. Bahkan pakai praktek di kampus dan di sekolah sekitar kampus lagi. Tapi kalau praktek di kampus, yang menjadi siswa adalah kawan mahasiswa yang udah pintar semua. Akibatnya ilmu tentang strategi mengajar masih kurang.

Kalau praktek di lapangan (PPL) ada juga. Tapi waktunya sedikit hanya beberapa kali pertemuan. Akibatnya saya kurang begitu mengerti ilmu strategi belajar yang baik.

Sebenarnya dosen mengharapkan kita dapat belajar sendiri dari perpustakaan. Tapi kalau sekedar membaca sih sudah banyak juga dapat bukunya. Tapi strategi mengajar tidak melulu hanya teori. Perlu praktek, perlu diskusi dengan yang lebih ahli.

Akibatnya, jadilah murid saya di tahun pertama menjadi kelinci percobaan saya dalam strategi mengajar. Apalagi daerah saya bertugas adalah daerah yang berdasarkan SK Bupati merupakan DAERAH SANGAT TERPENCIL. Bayangkan, ada murid saya yang di SMP masih belum lancar membaca. Apa bisa, teori dan pengalaman PPL strategi mengajar di kota diterapkan di sini.

Kalau boleh menilai, materi perkuliahan saya di FKIP Unlam program studi Pendidikan Matematika terlalu banyak materi matematikanya. Sampai dengan materi analitik, diskrit, deret Fourier, dan lain-lain yang saya sendiri tidak ingat lagi. Saking tingginya ilmu matematika tersebut, tapi setelah menjadi guru SMP tidak ada yang bisa di pakai. Karena materi matematika di SMP paling tinggi adalah Logaritma, Persamaan Kuadrat, dan lain-lain.

Yang sangat saya perlukan di lapangan adalah:
1. Bagaimana menghadapi siswa yang nakal?
2. Bagaimana mensiasat pembelajaran yang siswanya masih belum lancar membaca?
3. Bagaimana agar pembelajaran matematika yang abstrak bisa dibuat kontekstual dengan alat, media dan bahan ajar yang terbatas. (maklum di daerah sangat terpencil).
4. Bagaimana memotivasi siswa?
5. Bagaimana membuat siswa memiliki ketertarikan untuk belajar, karena didaaerah saya siswa sering tidak hadir karena lebih memilih ikut orang tua mencari nafkah?
dan lain-lain. Masih banyak lagi...

Jadi tolong kepada rekan seprofesi, yang masih baru belajar mengajar dan menemui banyak permasalahan, berikan komentar tentang masalah yang anda juga alami.

Kepada bapak / ibu dosen, bapak Dekan, bapak Rektor, bapak Menteri Pendidikan, bapak Presiden, dan pihak yang terkait. Tolong agar kurikulum pendidikan guru yang ada lebih banyak lagi muatan pendidikannya, jangan kebanyakan teori dan ilmu tingkat tinggi yang tidak terpakai di lapangan.

Parade Tokoh / Fisikawan Menuju ToE

Parade Tokoh dan Teori Menuju Theory of Everything (ToE) ⚗️ Era Awal – Fondasi Konsep Atom dan Hukum Alam (1600–1800) 1. John Dalton (176...