13 Maret 2012

"Perempuan Tidak Boleh Bekerja". Melihat judul di atas mungkin kening anda akan berkerut. Berbagai protes tentu akan muncul. Mulai dari masalah kesetaraan jender hingga masalah HAM. Aneh-aneh saja jika ada yang mewacanakan menonaktifkan semua PNS perempuan.

Melihat mainstream pemikiran sekarang ini sepertinya perempuan ingin diperlakukan sama atau setara dengan laki-laki. Jadi jika laki-laki boleh bekerja maka perempuan juga ingin keluar untuk bekerja. Apakah pemikiran ini tepat? Apakah pemikiran ini menggambarkan kesetaraan jender?

Sebagai seorang PNS saya mempunyai pemikiran lain. Isteri saya juga PNS jadi saya mengetahui suka dukanya seorang perempuan juga bekerja, terutama jadi PNS. Sejujurnya saya sangat kasihan melihat seorang perempuan ikut bekerja membantu suami. Entah itu sebagai pedagang, PNS, petani dan lain-lain. Tapi apa mau dikata, penghasilan PNS golongan rendah di Indonesia "kurang" mencukupi. Artinya gaji PNS saat ini hanya dapat mencukupi kebutuhan dasar saja. Jika yang bekerja atau PNS hanya suaminya maka saya melihat bahwa untuk membuat rumah, membeli kendaraan, membiayai anak kuliah akan kesulitan.

Hal yang membuat saya kurang setuju seorang perempuan bekerja adalah peran ganda yang dipikul seorang wanita. Jika di rumah maka isteri saya sibuk mengurus rumah tangga mulai dari mencuci, memasak, mengurus anak dan sebagainya. Setelah itu, jam 7 berangkat menjalani peran kedua sebagai wanita yang bekerja atau istilah kerennya, "Wanita Karier". Sibuk seharian dengan pekerjaan sebagai PNS dan pulang kerumah jam 3-4 sore dan dilanjutkan mengurus rumah tangga sampai malam.

Memang hal ini dilakoni untuk membantu suami karena dengan bekerja maka ada tambahan penghasilan karena gaji suami yang kurang mencukupi. Tapi akhirnya saya jadi kasihan melihat peran ganda dan besarnya tanggung jawab yang dipikul seorang isteri yang bekerja untuk membantu suami. Tetapi jika isteri berhenti bekerja atau jika hanya suami saja yang bekerja maka gaji kurang mencukupi. Bagaimanakah solusi mengatasi masalah ini.

Pilihan pertama isteri berhenti bekerja sehingga beban kerja berkurang. Seharian isteri bisa berkonsentrasi penuh mengurus anak atau rumah tangga tanpa dibebani pekerjaan kantor. Tapi sisi negatifnya penghasilan suami kurang mencukupi.

Pilihan kedua isteri tetap bekerja tapi suami membantu meringankan beban isteri dalam mengurus rumah tangga. Misalnya suami membantu mencuci pakaian, atau membersihkan rumah dan sebagainya. Jika istri bekerja diluar rumah untuk membantu suami, maka tidak salahnya suami membantu isteri dalam pekerjaan rumah. Memang prinsip ini terlihat adil, tapi tetap saja ada sisi negatifnya. Jika suami isteri bekerja, misal sebagai PNS, maka anak tidak ada yang mengasuh. Biasanya anak dititipkan di tempat penitipan. Padahal usia 1-3 tahun adalah masa identifikasi anak dimana anak akan meniru perilaku orang terdekatnya. Jika yang mengasuh memiliki tingkah laku dan sopan santun yang baik mungkin anak yang dititipkan juga akan baik perilakunya. Tapi bagaimana jika yang mengasuh anak kita perilakunya kurang baik? Misal berbicara kasar, kata-kata kurang sopan? Jadi idealnya anak diasuh ibunya sendiri sehingga pembentukan sikap dan kepribadian yang baik dapat ditanamkan sejak kecil.

Mungkin kebanyakan pembaca yang suami-isteri bekerja seharian memilih solusi kedua sebagai pilihan terbaik saat ini. Wajar saja karena sebagai rakyat atau masyarakat biasa cuma 2 pilihan itu yang bisa dipilih. Tapi Pemerintah sebagai penguasa hajat hidup orang banyak masih memiliki pilihan ketiga, yakni "menaikkan standar gaji". Baik itu gaji PNS atau UMR agar jika yang bekerja cuma suaminya maka gajinya mencukupi untuk hidup layak.

Menaikkan gaji memang pilihan yang "indah" dimata rakyat tapi merupakan pilihan yang "pahit" di sisi pemerintah. Kenaikan gaji otomatis akan diikuti bertambahnya anggaran. Jika pendapatan negara tetap maka kalau ingin menaikkan gaji harus ada mata anggaran departemen lain yang dipotong. Tentu saja pemerintah tidak ingin mengambil pilihan pahit ini. Pemerintah itu pada dasarnya sekelompok elit yang bertugas mensejahterakan rakyat tapi mereka tidak bisa lepas dari kepentingan partai, kelompok dan kroni-kroninya. Pilihan mensejahterakan rakyat merupakan pilihan terakhir setelah partai, kelompok, kroni dan pribadinya sendiri sejahtera.

Kalau pilihan ketiga sulit direalisasikan apakah ada solusi lain. Tampaknya sulit sekali memecahkan masalah di atas karena pendapatan negeri ini tetap sebegitu-begitu saja, ditambah lagi merajalelanya korupsi sehingga kue pembangunan hanya bisa dinikmati 5% kelompok elit. Pilihan 1 dan 2 juga sama sulitnya ibarat buah simalakama. Isteri bekerja penghasilan lumayan tapi rumah tangga tidak terurus dengan baik, sebaliknya isteri tidak bekerja memang rumah tangga bisa terurus dengan baik tapi penghasilan suami kurang.

Jika kita bisa menganalisan masalah dengan baik dan berani berfikir "out of the box" mungkinkah masih ada solusi lain. Saya tertarik menulis masalah ini karena terlintas di benak saya solusi nomor 4. Apakah itu? Tentu saja mungkin solusi ini aneh dan banyak yang tidak setuju. Tapi coba baca dengan baik tanpa prasangka mungkin pemikiran saya ada benarnya juga.

Solusi nomor 4: "Perempuan Tidak Boleh Bekerja". Caranya pemerintah melarang perempuan yang berstatus sebagai ibu rumah tangga untuk berperan ganda sebagai wanita karier. Tujuannya agar rumah tangga di Indonesia ini bisa terurus dengan baik. Cukup laki-laki saja yang bekerja karena itu memang tanggung jawab laki-laki. Tapi bagaimana jika sebagai PNS atau Karyawan gajinya kurang mencukupi? Hal ini bisa disiasati.

Untuk isteri yang berstatus sebagai PNS, pemerintah mempensiundinikan semua perempuan PNS. Trus anggaran yang seyogyanya dianggarkan sebagai gaji PNS perempuan digunakan untuk menaikkan gaji PNS sehingga gaji PNS laki-laki bisa naik 2 kali lipat. Otomatis cukup suami saja yang bekerja sebagai PNS maka gaji sudah mencukupi dalam arti nominalnya sama dengan gabungan gaji PNS waktu isteri masih bekerja.

Untuk non PNS pemerintah harus menaikkan UMR dua kali lipat. Tentu saja tujuannya agar karyawan yang isterinya dilarang bekerja penghasilannya tidak berkurang. Tentu saja hal ini akan mendapat tentangan dari kalangan Majikan karena karyawan berkurang setengah sedangkan pengeluaran gaji tetap. Artinya produksi menurun 50% dengan asumsi jumlah karyawan pria dan wanita sama.

Disinilah peran pemerintah untuk membuat peraturan dan menerapkannya agar kemaslahatan bangsa ini bisa tercapai. Keluarga, anak bisa dididik oleh ibunya sendiri dengan baik karena "WANITA TIDAK BOLEH BEKERJA DI LUAR".

Bagaimana tanggapan anda?

17 komentar:

  1. ide solusi nomor 4 diatas mungkin memang sepintas out of the box, tapi tetap memberikan penekanan pada masalah income. walau tidak bisa dipungkiri, masalah pendapatan adalah penting, tapi tentu bukan hal yg paling prinsipil, setidaknya bagi saia pribadi.

    dan, lagi² secara pribadi, dari dulu sampai sekarang saia malah mengharap perempuan (terlebih isteri sendiri) untuk bekerja, dengan dasar yang sangat sederhana. dengan bekerja, ia tentu akan beraktivitas & bergaul. akan mendapati banyak hal di luar rumah yg salah satu atau beberapanya akan berguna bagi diri & keluarga.

    khawatirnya saia, kalau di rumah saja akan jadi hobi nonton tipi, infotainment dan acara gossip lainnya. ini saia tidak suka & berbahaya.

    sisanya adalah pensiasatan. toh kadang saia juga masak, cuci piring pakaian, setrika, dll. ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada solusi lain.....???? Supaya "kodok kada mati ular kada lapar"...hehehehe

      Hapus
    2. itu, pada kalimat terakhir :)

      Hapus
  2. Perempuan sebaiknya diberdayakan agar bisa bekerja di rumah, saat ini teknologi online sudah bagus, contoh banyak perempuan yg bekerja dengan keahlian akunting, bukan-kah lebih praktis jika dikerjakan online dari rumah ?

    BalasHapus
  3. maaf pak, bisa minta alamat emailnya pak. ada yg ingin saya sampaikan. saya tunggu di email notosukses@yahooco.id

    BalasHapus
  4. saya sebagai perempuan,,sangat bermimpi untuk dapat "bekerja" dirumah,,tanpa harus meninggalkan anak,,,
    tapi para pria saat ini juga justru berfikir bila bekerja sendiri tidak mampu untuk menghidupi keluarga,,,,
    dari sisi ini, ,untuk option poin 4 mingkin baik,,,tapi adakah pemimpin negara ini yang memiliki kebijakasn seperti itu,,,lagipula,,,seiring kompleksnya masalah yang ada di masyarakat,,,beban kerja (sebagai pns) juga semakin meningkat,,,mau tidak mau perempuan harus ambil bagian,,,hanya saja hal ini tidak sesuai dengan kodrat perempuan dan terkadang perempuan bekerja jadi cenderung menomorduakan anak,,,,
    masalah ini sebetulnya harus menjadi wacana yang serius bagi pemerintah,,karena rusaknya dgenerasi muda harapan bangsa salah satu pencetusnya bisa jadi adalah kurangnya pendidikan dari ibu di dalam rumah,,, mindset perempuan yang berpendidikan tinggi gengsi bila menjadi ibu rumah tangga juga kurang bijaksana,,,menurut saya,,sebagai perempuan,,,seorang ibu yang berpendidikan,,,mampu mendidik anaknya lebih baik lagi,,,
    sebetulnya bila pemerintah mampu mengatur keuangan negara lebih baik lagi,,tidak mementingkan kepentingan perorangan, golongan, ataupun pihak2 tertentu,,,ssungguhnya kesejahteeraan rakyat dapat terjamin dengan baik,,,
    pemerintah sesungguhnya memikul tanggung jawab besar terhadap "penderitaan" ibu yang terpaksa harus bekerja diluar rumah karena masalah himpitan ekonomi,,,
    bahkan di dalam agama,,,begitu tingginya derajat perempuan,,,sebagai sang pendidik,,,sehingga agama tidak membebankan masalah ekonomi di pundak wanita,,,rujukan ekonomi perempuan dalam agama ada pada, ayah, suami, dan terakhir adalah negara,,,,
    tapi kenyataan hidup tidak memberikan pilihan kepada perempuan,,,,untuk mendidik anak2 nya dengan tangan dan jiwa mereka sendiri....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali.. perempuan "terpaksa" ikut bekerja membantu suami karena pengahasilan suami tidak mencukupi. Tak usah jauh-jauh contohnya Ibuku yang tinggal di desa, tiap hari ikut membantu ke sawah, setelah pulang disawah memasak dirumah, jadi "double" kerjaannya. Mudah-mudahan perempuan-2 hebat yang kerja double ikhlas niatnya sehingga Allah SWT akan membalas dengan surga...

      Hapus
  5. saya kira perempuan tidak harus seperti itu. perempuan memilik hak yang sama untuk urusan publik

    BalasHapus
  6. nyaman jua mun bini di rumah, sasuai sariat islam ujaaarr.. kd punk sombong laa.. alhamdulillah imbah bini lun dirumah rajaki kami sasain naik tunggal dikitan barakat bini dirumah sambahyang mangaji mandoaakan laki bagawi sakira rajaki halal wan lancar hahaha... asalnya bagawi jua bini ulun malaran jua punk gajinya 2,5jt an/bln tp kaluarga lun asa kd babarkah asa kd cukup ha tarus duit maka gaji lun 3jt an/bln, alhamdulillah imbah bini ampih bagawi ni sasain banyaman hidup, wahini kawa lun bawirausaha mangaridit trak fuso 12juta/bln, alhamdulillah,, nyaman kadanya hidup tu kd diukur wan duit ja.. paling nyaman sudah hidup saadanya, yg panting mun lun bulik sabagai laki ni mun lapar bini bamasak, tapasan rigat ditapasiakan bini, rumah simpun, anak kd salang ta ka urang maingu..
    nah masalah bini bagawi pulang wan perkembangan anak ulun sudah kami kalkulasiakan am, mun gaji bini ulun 2,5juta, mun bini lun tatap bagawi baarti banyak pangaluaran, babysitter 500/bln, susu anak anggap 700/bln, pamakan bini digawian 500/bln, bensin 100/bln total sudah 1,8juta/bln balum lagi gasan mek ap dll saapa da lagi sisanya gaji bini munnya bagawi jua??? waktu san anak am kdd lagi apang bulik bagawi kalapahan, tamamai anak ada am hahaha...
    alhamdulillah ni ti anak lun manyusu awak ja jd kdd duit kaluar san nukar susu malaran sudah 700rb :p
    ulun kd handak anak lun kaina kaya lun bahari, biar kuitan lun sugih tp kd tp ada waktu san ulun, lalu ulun macal tahu di "apam" wan "ha bi i" jauhakan bala ah mun anak lun sampai kaitu na a'udzu billah min dzalik hiiii....
    #sekedar share bukan tuk menggurui :p

    BalasHapus
  7. Saya setujua pak (sama dengan di note fb pian) :)

    BalasHapus
  8. sukses terus buat blognya kawan..

    BalasHapus
  9. Memang zaman sekarang banyak banget ya gan wanita wanita karir yang bekerja meskipun sudah menikah atau bahkan sudah memiliki keturunan

    BalasHapus
  10. trus bagaimana kalau yg berdagang gan??itu kan penghasilan sendiri ga ada yg ngegajih

    BalasHapus
  11. Saya setuju Opsi Isteri tetap bekerja karena memang banyak positifnya, diantaranya
    1. Penghasilan keluarga menjadi ganda sehingga biaya hidup (sembako, pendidikan anak, kebutuhan perumahan) lebih terjamin. Bahkan ada tabungan hari tuanya sampai bisa menunaikan ibadah haji
    2. Suami istri mengetahui keadaan ganda (di rumah dan di tempat kerja)
    Jika istri hanya di rumah maka si isteri tidak akan tahu kondisi tempat kerja (tekanan atasan, fitnah teman kerja, deadline/target instanti dll), isteri tahunya suami kerja lalu pada tanggal muda menerima gaji. Demikian juga suami tidak tahu beratnya pekerjaan rumah sehingga suami tahunya setiap pulang kerja sudah tersedia kopi hangat, makan malam siap santap, jika tidak akan martah ke isterinya.
    3. Pergaulan isteri bisa lebih luas (tidak hanya sebatas tetangga saja). Namun demikian pergaulan si isteri di tempat kerja tetap yang sopan.
    4. Jika isteri bekerja maka aktivitas di lingkungan rumah menjadi berkurang sehingga tidak memungkinkan ngrumpi, ngegosip, dan bikin acara yang tidak perlu.
    5. Dengan isteri bekerja maka keluarga lebih dihargai masyarakat.

    Tidak usah kawatir pekerjaan rumah terbengkalai. Bisa berbagi tugas suami-isteri (suami menyelesai pekerjaan rumah = mencuci/menyetrika pakaian, menyapu/mengepel lantai, belanja sembako....Isteri mendidik anak, mengolah makanan). Soal anak bisa dititipkan ke tempat penitipan anak atau gunakan pembantu pagi hingga sore saja, tidak usah kawatir akan perkembangannya karena hanya penitipan/pembantu ini hanya berlangsung ± 6 tahun saja, seterusnya kalau anak sudah bisa mandiri akan nyaman sampai tua daripada masa kecil si anak terjamin tetapi masa dewasa kurang biaya pendidikannya.

    BalasHapus

Terima kasih atas komentar anda.