02 Desember 2008

Bertepatan dengan Hari Jadi kabupaten HSS yang ke-58, kondisi medan jalan ke Daha Barat makin seru. Jalan satu-satunya yang menghubungkan kecamatan Daha Barat (Bajayau) ke dunia luar rusak parah. Badan jalan yang terdiri dari urukan tanah yang dilapisi sedikit batu kerikil yang diguyur hujan kondisinya mirip adonan. Berlumpur, penuh kubangan sedangkan kiri-kanan adalah rawa.

Lihatlah perjuangan berat pengendara motor di bawah ini untuk sampai ke tempat tugas di Daha Barat. Pasti anda berpikir dia adalah PPL atau Petugas Penyuluh Lapangan. Pakai sepatu bots, celana karet, jaket, motor "laki" yang biasa dipakai dipegunungan atau jalan berlumpur. Ups, tunggu dulu, anda salah, dia bukan PPL tapi seorang "Oemar Bakrie" yang akan berangkat ke SMPN 2 Daha Selatan. Terpaksa pergi ke sekolah pakai sepatu bots karena keadaan medan yang berat.

Jalan yang menghubungkan Daha Selatan (Kota Nagara) dengan Daha Barat (Bajayau) ini melintasi daerah rawa sejauh 10 km. Di kanan-kiri adalah rawa dan hutan kayu Galam. Lihatlah, apa ada rumah penduduk. Yang ada hanya satu buah jukung nelayan pergi mencari ikan dan gelegar mesin excavator di kejauhan yang sedang menggarap plaswa kelapa sawit. Perjalanan yang "hanya" 10 km ini terpaksa ditempuh dalam waktu hampir satu jam. Kadang sepeda motor terpeleset, terputar-putar, amblas, mogok, hingga jatuh di tepi sungai karena jalan yang licin dan berlubang. Padahal jarak 10 km kalau jalannya normal dan mulus paling lama 15 menit sudah sampai.

Kondisi jalan yang sunyi menyebabkan keamanan menjadi faktor yang harus dipertimbangkan. Memang dulu pernah terjadi, orang pulang jualan naik motor di rampok ditengah jalan. Belum lagi jika ban kempes atau motor mogok, duh susahnya. Oleh karena itu, para guru dan pegawai pemerintah lainnya yang naik motor ke Daha Barat jarang pergi sendirian. Biasanya berboncengan 2 orang atau berkonvoi 2 atau 3 motor.

Bertepatan dengan momen hari jadi kabupaten HSS tercinta ini, kami segenap pengguna jalan ke Bajayau mengharapkan perhatian dari pemerintah. Mohon segera diperbaiki, baik itu pengerasan atau pengaspalan. Sebagai kecamatan termuda, Daha Barat mengharapkan perhatian lebih dalam bentuk pembangunan infrastruktur agar Bajayau tidak lagi menjadi daerah terpencil dan terisolasi.

Catatan:
Pulang pergi dari Kandangan ke Bajayau:
  • Jarak ditempuh pulang pergi 100 km (terbaca di odometer sepeda motor saya)
  • Bensin kurang lebih 2 liter (bisa lebih kalau kondisi jalan basah berlumpur)
  • Waktu kurang lebih 3 jam (belum termasuk singgah untuk makan dan istirahat)

16 komentar:

  1. Itu perlu diperhatikan oleh pemerintah daerah, dan diperbaiki gmn org mau kesana kalau kondisi seperti itu

    BalasHapus
  2. Salam kenal juga..
    Terimakasih komentarnya...^_^
    Kami masih hanyar di dunia per-blog-an ini. Masih belajar n meraba menulis.
    Kami masih belum tau di Tanjung sudah ada komunitasnya apa belum. Tapi kami senang sekali seandainya bisa bergabung di blog 'pahuluan' banua anam. Dan akan mendukung komunitas blog ini.

    Ading.

    BalasHapus
  3. Sungguh memprihatinkan ya..??
    ck..ck..ck.. medan yang sugguh berat... Rasanya ngga tahan deh kalo misal aku di pindah tugaskan kesana, walau di Surat pernyataan Masuk PNS, bersedia di tempatkan di seluruh Wilayah Indonesia, he..he..he..

    Semoga Pemerintah, Khususnya Kabupaten HSS bisa lebih memperhatikan keadaan ini.. Semoga deh Pak Guru.. Berjuanglah Oemar Bakri.. Di Pundakmu Masa Depan Bangsa ini terpikul

    BalasHapus
  4. Luar biasa, saya salut dengan dedikasi yang diberikan. karena jujur saja, saya sendiri mungkin tidak memiliki kemampuan dan tidak menghadapi persoalan sejenis.

    semoga dengan semakin banyak rekan-rekan blogger di daerah yang memiliki persoalan macam ini mensuarakan melalui media blog, akan sedikit banyak menarik perhatian pemerintah daerah untuk mengatasi hal ini. entahlah, ini utopi atau bukan, tapi yang jelas tidak ada salahnya berusaha dengan cara yg kita mampu.

    Salut...

    BalasHapus
  5. Hehee.... Luar biasa beratnya. Pemerintah perlu turun tangan dalam masalah ini. namun tidak semua beban kita bebankan pada pemerintah daerah, harus ada juga sumbangsih dari kita walaupun tidak melulu dalam bentuk materi, bisa juga dari segi pemikiran.Misalkan aja tentang letak dan kelayakan jalan.Benar Pak Bupati?

    BalasHapus
  6. Perjuangan berat demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Saya menjadi malu atas 'keluhan' sehari-hari saya yang tiada seujung kukunya bila dibandingkan dengan perjuangan Pak Ideris.

    Insya'Allah ...

    BalasHapus
  7. duh, jadi malu. saya gak pernah merasakan harus bertugas dengan tantangan sedemikian berat.
    salut buat dedikasi pak syams dan rekan-rekan di kandangan, tetap ikhlas bertugas walaupun rintangannya sangat berat.
    mudah-mudahan harapan pak syams dan seluruh warga didengar dan segera terwujud.

    BalasHapus
  8. mengenaskan pak syam. tapi demi tugas, apapun risikonya mesti dihadapi.

    saya sendiri lokasi sekolahnya di bebukitan. pukul 11.00 biasanya hujan mulai turun. saat pulang hujan kadang belum reda. jadi, ya nerobos hujan. tiap hari mesti siap dg mantel.

    nah saat pulang nerobos hujan, jalanan licin dan banyak yg berlubang. terperosok atau tergelincir, sesuatu yg tak asing lagi

    BalasHapus
  9. wah bisa sambil berenangn nih Pak. Tapi memang masih asyik tuh, bisa main lumpur di tengah sawah.

    BalasHapus
  10. Malu saya, sungguh saya malu...

    Tapi pasti malu saya tidak sebesar malunya pada pejabat yang melihat kondisi ini, mereka pasti lebih malu dengan situasi kepemimpinannya. MEREKA PASTI AKAN MEMPERBAIKINYA... MEREKA PASTI MALU, MEREKA PASTI SADAR..

    *disiram air tajin biar bangun*

    BalasHapus
  11. Itulah...bagaimana ekonomi pedesaan mau maju dan pendidikan bisa berkembang dengan baik.

    Tetap semangat ya Syam!

    BalasHapus
  12. semoga bisa tetap di jalan-Nya
    sampai ujung waktu :)

    BalasHapus
  13. Anda layak dapat bintang bro!
    Salut dan bangga, menepis anggapan negatif kepada birokrat/aparatur! Yakinlah bro apapun yg telah anda berikan merupakan amal jariah bagi anda..Terus semangat!

    BalasHapus
  14. zein abu balya23/12/09 18.35

    semangat boss.....bila uyuh singgah dulu ke masigid....

    BalasHapus
  15. salut Sodara... teruslah mengabdi... semua kan jadi cerita klasik nan indah suatu saat... kami malu sbg pengabdi di daerah yag agak lumayan... sedikit2 ngeluh... hujan saja sudah banyak yang gak dateng ngajar... good & great motivation..

    BalasHapus
  16. semangat pak guru walupun di guyur hujan deras..
    itu siapa ya yg di motor ngadep ke kamera?

    BalasHapus

Terima kasih atas komentar anda.