15 Oktober 2008

Tahukah anda bahwa sebutir air hujan yang jatuh dari ketinggian 1.200 m mempunyai dampak yang sama dengan benda berbobot 1 kg dari ketinggian 110 cm. Bayangkan apa yang anda rasakan jika tubuh, rumah atau kendaraan Anda tertimpa benda seperti ini?

Padahal menurut perkiraan, setiap detik sekitar 16 juta ton air menguap dari bumi dan turun menjadi hujan. Berarti satu tahun, angka ini mencapai sekitar 505.000.000.000.000 (505 triliun) ton air. Sanggupkah anda membayangkan bencana apa yang terjadi oleh air sebanyak itu jika setetes saja sudah berbahaya?

Kita patut bersyukur hal ini tidak pernah terjadi. Sang Perancang Agung yang menciptakan alam semesta ini telah memperhitungkan segala sesuatu dengan cermat bahkan sampai setetes air hujan. Ternyata butir air hujan tidaklah turun dalam bentuk menyerupai tetesan air mata atau bentuk mirip buah salak. Nyatanya, tetesan air hujan berbentuk bulat saat baru saja jatuh meninggalkan awan. Untuk butiran air hujan berukuran kecil, bentuk bulat ini bertahan. Namun, untuk butiran lebih besar, semakin jatuh ke bawah, bentuknya berubah dan lebih menyerupai setengah bola pipih. Dalam bahasa Inggris penampakan ini biasa disebut hamburger-bun shape atau bentuk roti burger: rata di permukaan bawahnya dan melingkar di permukaan atasnya (lihat gambar). Perubahan bentuk ini akibat gaya tekan udara pada permukaan bagian bawah tetesan air hujan yang sedang jatuh ke bumi. Gaya tekan yang berlawanan dengan arah turunnya hujan menyebabkan ratanya permukaan bawah tetesan air hujan. Bentuk ini memperbesar gaya hambat sehingga memperkecil kecepatan jatuhnya air hujan. Rendahnya kecepatan jatuhnya ke bumi menghindari kerusakan hebat akibat tumbukan air hujan.

Jadi hujan turun ke bumi dalam ukuran dan perhitungan yang tepat dalam berbagai halnya. Yang utama adalah kecepatan jatuhnya air hujan. Saat dijatuhkan dari ketinggian 1.200 meter, sebuah benda berbobot dan berukuran sama dengan setetes air hujan akan terus-menerus mengalami percepatan (peningkatan kecepatan). Akhirnya, benda ini jatuh menumbuk permukaan bumi pada kecepatan 558 km/jam. Tapi anehnya, kecepatan rata-rata butiran air hujan hanyalah 8-10 km/jam; atau sekitar 60-70 kali lebih lambat. Subhanallah.

10 komentar:

  1. subhanallah, sungguh mahabesar dan mahasuci Allah dengan segala ciptaan-Nya. sungguh, dari sisi keilmuan, ternyata segala proses yang telah diciptakan Allah bisa dianalisis secara rasional. tak sia-sia juga kalau Allah memberikan anugerah berupa akal dan logika kepada umat manusia. postingan yang menarik dan informatif, pak syam.

    BalasHapus
  2. ternyata banyak sekali ayat-ayat yang bisa dibaca mengenai kebesaran Allah ya, pak syams?
    bahkan dari setetes air hujan yang kecil dan sering terabaikan sekalipun kita bisa belajar dan memetik hikmah.
    terima kasih, pak syams. artikelnya mencerahkan.

    (agaknya bagian terakhir mengenai perlambatan jatuh air hujan yang masih belum terjelaskan ya, pak?)

    BalasHapus
  3. baru tau nih pak klo bentuknya nge-bun gitu hehe..
    mantap infonya!

    BalasHapus
  4. kalau tuhan sudah mengatur alam sebegitu bagusnya. Pastinya, berbagai ujian & rezeki sudah di setting sedemikian rupa. Hanya terkadang, meyakininya begitu sulit.

    Terkadang, kalau itu tidak menjangkau ilmu pengetahuan dan tak ada logikanya. Malah tak mau dipercaya.

    BalasHapus
  5. Terbalik Mas SQ,
    Bukannya semua itu tidak menjangkau ilmu pengetahun...sehingga banyak yang tidak percaya
    Tapi..
    Ilmu pengetahuan belum sampai menjangkaunya, padahal fenomena itu udah terjadi sejak awal mula alam, manusia saja yang masih bodoh dan tidak cukup ilmu untuk mengerti keindahan ciptaan Allah.

    BalasHapus
  6. duhh.. baru tau saya Pak Syam...
    bikin blank saya informasi ini, makin merasa kecil sekali, menciut Pak...
    :(

    *bookmarked*

    BalasHapus
  7. Alalah memang Mahasegalanya ... pencerahan yang bagus

    BalasHapus
  8. kren infoNya . . . . asLi . . hehehe . .
    SukSes aLways bwat Smua na . . hoho . .

    Slam buat orang banua . .

    BalasHapus
  9. kalau seandainya air hujan turn dengan aslinya dan tidak ada perubahan bentuk.. gak kebayang deh harus bikin payung terbuat dari apa...

    BalasHapus

Terima kasih atas komentar anda.