31 Agustus 2008

A. KEADAAN BULAN (Hilal)

Visibilitas (kenampakan) Hilal pada hari terjadinya Ijtimak selepas matahari terbenam di seluruh dunia khususnya kawasan Indonesia ditunjukkan pada gambar peta di bawah. Peta visibilitas mengacu pada Kriteria Odeh yang mengadopsi Limit Danjon sebesar 7° yaitu jarak minimal elongasi Bulan dan Matahari agar hilal dapat diamati baik menggunakan alat optik maupun mata telanjang. Kriteria tersebut dikemas dalam sebuah software Accurate Times yang menjadi acuan pembuatan peta visibilitas ini.

Artinya:

  1. Sangat tidak mungkin daerah yang berada di bawah arsiran MERAH dapat menyaksikan hilal, sebab pada saat itu bulan terbenam lebih dulu sebelum matahari terbenam atau ijtimak lokal (topocentric conjunction) terjadi setelah matahari terbenam.

  2. Daerah yang berada pada area BIRU TUA (tak berarsiran) juga tidak memiliki peluang menyaksikan hilal walaupun menggunakan peralatan optik (binokuler/teropong) sekalipun, sebab kedudukan hilal masih sangat rendah ( <6°>

  3. Hilal baru mungkin dapat teramati menggunakan peralatan optik pada area di bawah arsiran BIRU MUDA. Pada area ini pun masih sangat sulit karena dibutuhkan kondisi langit yang sangat cerah terutama di langit Barat.

  4. Wilayah yang berada dalam arsiran UNGU hanya dapat menyaksikan hilal menggunakan peralatan optik sedangkan untuk melihat langsung dengan mata diperlukan kondisi cuaca yang sangat cerah dan ketelitian pengamatan.

  5. Hilal dengan mudah dapat disaksikan pada area di bawah arsiran HIJAU baik menggunakan mata langsung maupun terlebih menggunakan peralatan optik dengan syarat kondisi udara dan cuaca cukup baik.

  6. Peta ini dibuat dan hanya berlaku untuk daerah 60° Lintang Utara sampai 60°Lintang Selatan.


B.KETINGGIAN BULAN (Hilal) di BANJARMASIN

Ketinggian hilal dilihat di Banjarmasin saat matahari terbenam 31/8/2008

Untuk melihat ketinggian hilal di kota-kota lainnya klik di sini.


C. PERKIRAAN AWAL RAMADHAN 1429 MENURUT BERBAGAI KRITERIA

1. Menurut Kriteria Rukyat Hilal ( Limit Danjon )

Andre Danjon, seorang astronom Perancis pada 1930-an menyimpulkan bahwa Hilal tidak akan dapat diamati jika jarak minimum elongasi Bulan dan Matahari kurang dari 7°. Melihat lokasi Indonesia menurut peta visibilitas di atas, jika Limit Danjon diberlakukan maka seluruh wilayah Indonesia berpeluang tipis dan sangat sulit bahkan tidak mungkin dapat melihat hilal pada hari pertama terjadinya Ijtimak (31/8) setelah matahari terbenam. Dengan demikian awal bulan seharusnya jatuh pada:

Selasa, 2 September 2008

Namun demikian, sudah dapat diprediksi bahwa "AKAN ADA KLAIM LAPORAN RUKYAT" dari suatu tempat. Dan sesuai tradisi Sidang Itsbat maka klaim ini akan diterima karena hilal diangap pada posisi "imanurrukyat" (>2°). Pada akhirnya Pemerintah akan mengumumkan awal Ramadhan akan jatuh pada :

Senin, 1 September 2008

Kriteria ini dipakai kalangan NU dan yang menganut asas rukyatul hilal.


2. Menurut Kriteria Imkanur Rukyat

Pemerintah RI melalui pertemuan Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) menetapkan kriteria yang disebut Imkanurrukyah yang dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan bulan pada Kalender Islam negara-negara tersebut yang menyatakan :

Hilal dianggap terlihat dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah berikutnya apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut:

(1)· Ketika matahari terbenam, ketinggian bulan di atas horison tidak kurang dari 2° dan
(2). Jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3°. Atau
(3)· Ketika bulan terbenam, umur bulan tidak kurang dari 8 jam selepas ijtimak berlaku.

Menurut Peta Ketinggian Hilal di atas pada hari pertama ijtimak/konjungsi ketiga syarat tersebut terpenuhi. Dengan demikian awal bulan akan jatuh pada :

Senin, 1 September 2008

Kriteria ini dipakai oleh pemerintah, cq Departemen Agama RI.


3. Menurut Kriteria Wujudul Hilal

Kriteria Wujudul Hilal dalam penentuan awal bulan Hijriyah menyatakan bahwa : "Jika setelah terjadi ijtimak, bulan terbenam setelah terbenamnya matahari maka malam itu ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah tanpa melihat berapapun sudut ketinggian bulan saat matahari terbenam. Berdasarkan posisi hilal saat matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia maka syarat wujudul hilal sudah terpenuhi di seluruh wilayah Indonesia. Dengan demikian awal bulan akan jatuh pada :

Senin, 1 September 2008

Kriteria ini dipakai oleh kalangan Muhammadiyah.


4. Menurut Kriteria Kalender Hijriyah Global

Universal Hejri Calendar (UHC) merupakan Kalender Hijriyah Global usulan dari Komite Mawaqit dari Arab Union for Astronomy and Space Sciences (AUASS) berdasarkan hasil Konferensi Ke-2 Atronomi Islam di Amman Jordania pada tahun 2001. Kalender universal ini membagi wilayah dunia menjadi 2 region sehingga sering disebut Bizonal Hejri Calendar. Zona Timur meliputi 180° BT ~ 20° BB sedangkan Zona Barat meliputi 20° BB ~ Benua Amerika. Adapun kriteria yang digunakan tetap mengacu pada visibilitas hilal (Limit Danjon).

Baik zona Timur maupun Barat sama-sama berpeluang untuk berhasil rukyat pada hari pertama terjadinya Ijtimak walau harus menggunakan peralatan optik. Dengan demikian awal bulan di masing-masing zona akan jatuh pada :

Zona Timur :
Senin, 1 September 2008

Zona Barat :
Senin, 1 September 2008

5. Menurut Kriteria Saudi

Kurangnya pemahaman terhadap perkembangan dan modernisasi ilmu falak yang dimiliki oleh para perukyat sering menyebabkan terjadinya kesalahan identifikasi terhadap obyek yang disebut "hilal" baik berupa kasus "SALAH YANG DILIHAT" maupun "BOHONG YANG DILIHAT". Klaim terhadap kenampakan hilal oleh seeorang atau kelompok perukyat pada saat hilal masih berada di bawah "limit visibilitas" atau bahkan saat hilal sudah di bawah ufuk sering terjadi. Sudah bukan berita baru lagi bahwa Saudi kerap kali melakukan istbat terhadap laporan rukyat yang "kontroversi" karena kasus tersebut.

Kalender resmi Saudi yang dinamakan "Ummul Qura" yang telah berkali-kali mengganti kriterianya hanya diperuntukkan sebagai kalender untuk kepentingan non ibadah. Sementara untuk keperluan ibadah Saudi tetap menggunakan rukyat hilal bil fi'li dan bil syar'i sebagai dasar penetapannya. Sayangnya, penetapan ini sering hanya berdasarkan pada laporan rukyat dari seseorang saksi tanpa terlebih dahulu melakukan klarifikasi dan konfirmasi terhadap kebenaran laporan tersebut apalagi melakukan uji kompetensi terhadap saksi. Perhitungan astronomis (hisab) yang telah terbukti akurasinya tidak dimanfaatkan sebagai kontrol terhadap kebenaran laporan saksi. Apakah ini akan berlangsung selamanya?

Kalender Ummul Qura' :

Kalender ini digunakan Saudi bagi kepentingan publik non ibadah. Kriteria yang digunakan adalah "Telah terjadi ijtimak dan bulan terbenam setelah matahari terbenam di Makkah" maka sore itu dinyatakan sebagai awal bulan baru.

Pada hari pertama ijtimak/konjungsi di Saudi (30/8) kondisinya belum memenuhi syarat.

Dengan demikian istikmal dan awal bulan akan jatuh pada :
Senin, 1 September 2008

Kriteria Rukyatul Hilal Saudi :

Rukyatul hilal digunakan Saudi khusus untuk penentuan bulan awal Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah. Kaidahnya sederhana "Jika ada laporan rukyat dari seorang atau lebih pengamat/saksi yang dianggap jujur dan bersedia disumpah maka sudah cukup sebagai dasar untuk menentukan awal bulan tanpa perlu perlu dilakukan uji sains terhadap kebenaran laporan tersebut".

Menurut Danjon, ada peluang rukyat di Saudi pada hari kedua ijtimak (31/6). Dengan demikian awal bulan akan jatuh pada :

Senin, 1 September 2008

Namun demikian pada 31/8 ketinggian hilal sangat ekstrim yaitu hanya 3,9° sehingga peluang rukyat di Saudi adalah sangat kecil atau bahkan tidak mungkin. Mengacu kepada kriteria rukyatul hilal (actual sighting) maka awal bulan seharusnya jatuh pada :

Selasa, 2 September 2008


D. KESIMPULAN

Berdasarkan perkiraan hasil hisab memakai alat teknologi di atas, kemungkinan awal Ramadhan akan sama antara penganut metode rukyah dan metode hisab. Mudah-mudahan tahun ini semua ummat Islam di Indonesia memiliki kesatuan dalam hal awal Ramadhan dan Idul Fitri.

Sumber: www.rukyatulhilal.org

2 komentar:

  1. alhamdulillah tahun ini tidak ada selisih pendapat untuk awal ramadhan.

    BalasHapus
  2. Bagus. Ini tulisan serius. Makasih ilmunya ya. Saya jadi ngiri (positif). Sekali lagi, seamat.

    BalasHapus

Terima kasih atas komentar anda.