10 Mei 2008

Sebenarnya saat harga bensin Rp 4.500 perliter pemerintah masih memperoleh keuntungan Rp 3.870.  Jadi harga BBM tidak perlu dinaikkan. Lho, bagaimana, koq bisa? Bisa dong asal kita mau jujur dalam menghitung.


Menurut Kwik Kian Gie, mantan menag PPN / kepala Bapennas, asumsi yang digunakan adalah: produksi minyak mentah kita 1 juta barrel perhari, hasil yang didapat pemerintah dari KPS (Kontraktor Production Sharing) adalah 30% untuk pemerintah dan 70% untuk kontraktor asing. Biaya pengolahan minyak mentah menjadi bensin adalah10 dollar AS perbarrel. Artinya dengan krus Rp 10.000 / 1 dollar AS modal produksi bensin "hanya" Rp. 630,- perliter. Kesimpulannya jika pemerintah menjual bensin Rp 4.500 perliter sebenarnya diperoleh keuntungan Rp 3.870,- perliter. menurut perhitungan beliau, dalam setahun pemerintah masih untung Rp 35 Triliun.

Tapi kenapa pemerintah mengaku beban subsidi BBM membengkak menjadi Rp 130 Triliun! dan hal ini mengakibatkan APBN akan kollaps (seperti dikatakan SBY di beberapa pertemuan). Jadi menurut pemerintah tiada kemungkinan lain selain menaikan harga BBM.

Mana yang benar? koq keduanya bagaikan bumi dan langit, jauh panggang daripada api, satu pihak mengatakan untung 35 Triliun, satu pihak mangatakan rugi 130 Triliun. Weleh..weleh..weleh...rakyat kecil jadi bingun dan jika harga BBM jadi dinaikkan maka rakyat kecil lah yang kian sengsara. Kalangan atas, (seperti presiden, mentri, pengusaha, orang kaya, dll) dengan harga BBM berapa pun mereka masih bernapas lega karena uang mereka masih banyak.

Jangan bingung dan tertipu oleh propaganda. Yang benar adalah tergantung kita memandang dari kepentingan mana. Harga BBM Rp 4.500 dikatakan masih untung Rp. 3.870 jika kita memandang bahwa BBM (bensin) itu milik rakyat yang diambil dari bumi Indonesia dan dijual kepada orang Indonesia. Jadi dengan modal Rp 320 perliternya lalu kita jual ke rakyat Rp 4.500 kan masih untung Rp. 3.870. Rakyat senang pemerintah untung.

Tapi jika kita berpatokan atau menyamakan dengan harga minyak dunia Rp 120 dollar perbarrel dan minyak kita yang ditambang di bumi sendiri dan akan dijual ke rakyat sendiri dipandang harus berharga sama dengan harga dunia, yaa jelas pemerintah merasa rugi karena menjual BBM seharga "seperti dulu" tapi lebih murah dari harga dunia (walaupun sebenarnya masih untung).

Jadi sebenarnya tidak ada istilah "Subsidi" karena memang harga BBM masih menguntungkan dengan harga sekarang dan BBM yang dijual juga BBM dari dalam negeri. Yang benar, pemerintah dikatakan memberikan subsidi jika BBM yang dijual di Indonesia tersebut dibeli dari Luar Negeri dengan harga dunia 120 dollar perbarrel lalu dijual 80 dollar perbarrel seperti sekarang itu baru dikatakan pemerintah mensubsidi 40 dollar perbarrel.

Tapi kalau kejadian yang sebenarnya pemerintah menjual BBM milik sendiri dengan modal 10 dollar perbarrel dan dijual 80 dollar perbarrel, hayooo...tanya saja anak SD mana yang mengatakan bahwa pemerintah rugi atau "harus mensubsidi". Tapi jika kita memandang harga minyak dunia tentu timbul di hati keinginan menjual minyak seharga tinggi tersebut untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya tapi mengorbankan rakyat sesengsara-sesengsaranya. Kenapa saya katakan "paling sengsara" karena dengan harga BBM saat ini saja kemaren ada tukang becak yang mau bunuh diri karena tidak tahan himpitan ekonomi. Apalagi kalau dinaikkan, berapa banyak lagi abang becak yang harus menanggung sengsara.

Mulai sekarang, cerdaslah wahai rakyat Indonesia, berpikirlah, dewasalah dalam berpolitik, jangan lagi cuma terpesona oleh tampang atau janji semata kalau kenyataanya hanya memberikan sengsara di kemudian hari. Indonesia bumi yang kaya, kenapa kita masih sengsara.

0 yang telah berkomentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentar anda.