15 Desember 2008

1. Ziarah ke Makam Datu Sanggul

Kalimantan Selatan merupakan daerah yang memiliki tradisi keislaman yang kuat. Di sini terdapat "Serambi Mekkah", yakni kota Martapura di kabupaten Banjar. Martapura merupakan kota santri yang telah mencetak ribuan santri, dan ratusan ulama mumpuni.

Kuatnya akar Islam di tanah Banjar tidak lepas dari peran perjuangan para ulama dan waliyullah di masa kerajaan Banjar dahulu. Siapa tak mengenal Syekh Muhammad Arsyad al Banjary dengan kitab Sabilal Muhtadinnya. Kitab ini diterbitkan dan dipelajari tidak hanya di Indonesia tapi sampai ke manca negara seperti Malaysia dan Brunnei Darussalam.

Para wali di tanah Banjar di masa lalu sering diberi gelar Datu (gelar kehormatan di Malaysia, Datuk). Misalnya Datu Sanggul, Datu Suban, Datu Kelampayan. Sedangkan di masa sekarang ada ulama besar dan kharismatik di Kalsel, yakni Tuan Guru Sekumpul yang kini bermakam di Sekumpul Martapura.

Warga Kalsel yang ingin ziarah biasanya mengunjungi makam Guru Sekumpul, Datu Kelampayan, dan Datu Sanggul. Tiga tempat ziarah ini menjadi sering menjadi paket "wajib" bagi orang yang ingin ziarah di tanah Banjar.

Datu Sanggul merupakan gelar kehormatan kepada seorang wali Allah di tanah Banjar. Nama asli beliau adalah Abdus Shamad yang berasal dari Palembang dan hidup pada abad 18 Masehi.

Semasa muda, Abdus Shamad gemar melanglang buana menuntut ilmu Agama Islam. Setelah merantau ke berbagai negeri di seberang lautan, akhirnya sampailah beliau ke Muning, di kabupaten Tapih, Kalsel. Di sana beliau menuntut ilmu kepada seorang wali yang bernama Datu Suban.

Penyebab Abdus Shamad muda pergi ke Kalimantan untuk menuntut ilmu karena ada firasat melalui mimpi. Suatu ketika beliau bermimpi bertemu dengan seorang tua. Sambil berjabat tangan, orang tua tersebut berkata: "Jika Ananda ingin menuntut ilmu yang sejati hendaklah ananda berguru pada Datu Suban di pulau Kalimantan di Kampung Muning Pantai Jati Munggutayuh Tiwadak Gampa daerah Tatakan".

Ketaatan dan kepatuhan Abdus Shamad membuatnya menjadi murid kesayangan Datu Suban. Berbagai ilmu agama dipelajarinya hingga akhirnya Abdus Shamad menjadi seorang wali di tanah Banjar yang memiliki Kharamah luar biasa dan diberi gelar Datu Sanggul.
Kini makam beliau dapat ditemui di desa Tatakan kabupaten Tapin sekitar 500 meter dari pinggir jalan provinsi. Kompleks makam beliau oleh pemerintah dijadikan Benda Cagar Budaya yang dilindungi.

Setiap hari banyak peziarah berkunjung ke makam ini. Mereka tidak hanya datang dari kabupaten Tapin saja, tetapi dari Kalsel, Kalteng, Kalbar, Kaltim bahkan dari luar pulau Kalimantan. Bahkan terkadang ada peziarah yang datang dari Malaysia dan Brunei Darussalam.

Walaupun beliau telah wafat lebih dari 3 abad yang lampau tapi makam beliau tetap terjaga. Setiap hari banyak peziarah yang datang. Selain ziarah ke makam, di tempat itu disediakan bagian khusus buat orang yang ingin mengadakan selamatan. Disediakan air khusus untuk diminum yang telah didoakan oleh ulama setempat.

Di koridor menuju makam terdapat berbagai dagangan. Berbagai souvenir dan perlengkapan muslim dapat ditemui di sini.


(Bersambung)

11 komentar:

  1. Ulun mun bulik ka banua Insya Allah ziarah ke makam2 nang pian padahi,salam badangsanakan dari urang pagat di kalbar.

    BalasHapus
  2. Salam Persaudaraan...Lamannya Bagus. Komplit.

    BalasHapus
  3. Ass.

    Ziarah yang membangkitkan gairah dalam membangkitkan hasrat untuk menapaki jejak keteladanan, ya keteladanan, keteladanan terpaan firasat "Jika Ananda ingin menuntut ilmu yang sejati hendaklah ananda berguru pada Datu Suban di pulau Kalimantan di Kampung Muning Pantai Jati Munggutayuh Tiwadak Gampa daerah Tatakan".

    Firasat yang memotivasi ... terlepas dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

    Wass.

    BalasHapus
  4. jangan kada ingatlah mangunjungi datu tuha kita di sambangan(Datu Insad) wan datu Pamulutan(Pulau Datu) Batakan.
    alhamdulillah barakat cangkal ma-udak kawa jua surang bakuciak nah...
    mudahan kada rusak lagi..

    BalasHapus
  5. Posting menarik syam, jadi tau tentang datu sanggul yang terkenal itu.
    Sya belum pernah ke sana..

    BalasHapus
  6. Sayang sekali jika tempat-tempat wisata religius yang ada di Kalsel sendiri terlupakan. Padahal tempat-tempat itu begitu kaya akan potensi, seperti potensi sejarah Islam di Kalsel, potensi kekayaan arsitektur lama, potensi keunikan budaya-budaya lokal yang harus lebih digali untuk pelestariannya.

    Begitu pula dari fenomena ziarah dapat digali potensi ekonomi lokal yang dapat dimanfaatkan untuk masyarakat sekitar pula. Dan secara tidak langsung dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar.

    http://taufik79.wordpress.com/2008/10/18/wisata-religi-segarkan-pikir-dan-dzikir/#more-831

    BalasHapus
  7. Wah.. sejarah bagus nih Pak Guru..
    plus jadi t4 wisata religi ya..??

    BalasHapus
  8. tapi salahnya,banyak dari peziarah yang bukan mendoakan si mayait,tapi malah minta berkah..ini yang perlu diluruskan..agar kita tidak jatuh kepada kesyirikan, karena mengharap kepada selain Alloh...

    BalasHapus
  9. Pa, kaina postingkn jua wisata-wisata religi di kabupaten hulu sungai selatan tempat pian badiam di kandangan wan tempat pian m ajar di negara seperti Makam Datu Taniran di desa kubah taniran, makam Datu Ahmad Balimau di desa balimau,Makam Syekh H.Abbas di Wasah ( Mesjid Ba'angkat ), Makam Habib Lumpangi di Gunung Lumpangi, Makam Habib Ibrahim Nagara, Makam Datu Daha Nagara wan Makam Kubah Dingin di Nagara jua.

    BalasHapus
  10. ulun cuma handak maingattakan, nang peting bahati hati jangan sampai syirik.

    BalasHapus
  11. Kandangan kota serambi Palestina, serambi Al-Aqsa, serambi Al-Quds dan serambi Baitul Maqdis

    BalasHapus

Terima kasih atas komentar anda.