19 Desember 2008

Perjalanan menuju SMPN 2 Daha Selatan (Bajayau) hari ini cukup menegangkan. Beredar kabar bahwa sebagian jalan dari Kandangan ke Nagara mulai terendam air. Bahkan katanya kondisi di daerah hilir seperti Bajayau sudah banyak rumah penduduk terendam air.

Mulai berangkat dari Kandangan pukul 06:30 Wita. Melewati pinggiran sungai Amandit terlihat pemandangan mendebarkan. Ketinggian permukaan air di sungai yang membelah kabupaten HSS ini makin mengkhawatirkan. Air sungai deras dan berwarna keruh kecoklatan. Pertanda telah terjadi hujan lebat di daerah hulu pegunungan Meratus seperti Loksado.

Gambar 1 : Sungai Amandit

Sepanjang perjalanan 30 km dari Kandangan ke Nagara terjadi beberapa kendala. Terdapat sekitar 4 titik jalan yang aspalnya mulai tergenang air. Ketinggian jalan yang rendah tersebut terdapat di Karang Ratih, Bangkau, dan Muning. Ketinggian air di jalan dari 5-10cm. Di sebelah kanan jalan yang merupakan sungai dan rawa terlihat air deras yang makin meninggi.

Sampai di Nagara terlihat bahwa kota sentra industri kerajinan logam di HSS ini mulai terendam air. Banyak rumah penduduk yang agak rendah tergenang luapan air sungai Nagara. Sungai Nagara merupakan sungai yang menjadi tempat "pembuangan air" dari kabupaten HSU, HST, HSS dan Tapin.


Gambar 2: Rumah Penduduk Terendam Air

Perjalanan ke Bajayau belum selesai. Route dari Kandangan ke Nagara baru sepertiga perjalanan yang harus kami tempuh. Selanjutnya harus ditempuh perjalanan lewat sungai dari Nagara ke Bajayau sekitar 1 jam naik klotok. Yah, kalau dari Kandangan-Nagara jalan aspal, maka dari Nagara-Bajayau naik klotok.

Duduk di atas kelotok memandang luasnya sungai dan awan yang mulai menghitam. Kanan-kiri hanya rawa luas dan sedikit rumah penduduk. Terbayang jika hari hujan dan angin bertiup keras. Tapi untunglah ini sungai jadi tidak ada gelombang layaknya di laut. Tapi tetap saja membuat hati berdebar menunggu apa yang selanjutnya terjadi.


Gambar 3: Sungai Nagara

Sebelum sampai ke Bajayau kita akan melewati 4 buah desa, yakni Siang Gantung, Baru, Tanjung Selor dan Badaun. Klotok yang ditumpangi para guru ini akan singgah di masing-masing desa. Setiap desa terdapat SD yang harus disinggahi para guru. Sedangkan SMPN 2 Daha Selatan terdapat di desa Bajayau. Nanti melanjutkan dari Bajayau ada desa Bajayau Tengah, dan Bajayau Lama.


Gambar 4: Guru SDN Baru Tertatih-Tatih di Titian

Sesampainya di SMPN 2 Daha Selatan ternyata kabar itu memang benar. Air sudah meninggi. Lantai sekolah hanya tinggal beberapa centimeter lagi dari permukaan air. Bangunan sekolah kami didirikan diatas rawa. Kalau musim penghujan biasanya lantai bangunan masih sekitar 1 meter dari permukaan air. Berarti tahun ini air lebih tinggi dari biasanya.

Gambar 5: Bangunan SMPN 2 Daha Selatan di atas air

Lihatlah rumah dinas yang saya tinggali. Rumah mungil ini juga tinggal beberapa cm saja dari permukaan air. Teringat pengalaman banjir di tahun 2005. Air menggenangi lantai dan banyak sekolah diliburkan. Hewan air seperti ular dan semut sering masuk ke rumah.

Gambar 6: Rumah Dinas SMPN 2 Daha Selatan

Tapi untunglah seluruh siswa kami pergi ke sekolah naik klotok. Biar bagaimanapun tingginya permukaan air mereka masih bisa pergi ke sekolah. Memang di Bajayau belum ada jalan darat yang memadai. Jadi klotok dan jukung menjadi alat transportasi andalan.

Gambar 7: Kelotok siswa SMPN 2 Daha Selatan

Nah, bagaimana? Beranikah anda tugas di sini. Kalau tidak pandai berenang tentu tugas di daerah perairan merupakan momok menakutkan.

Pendidikan di daerah rawa terpencil seperti Bajayau masih memerlukan banyak tenaga pengajar yang muda, aktif, dan memiliki idealisme tinggi. Maklum pekerjaan lebih berat dari pada penghasilan yang didapat. Saya menantang semua mahasiswa FKIP Unlam atau STIKIP atau IAIN yang mau praktek atau KKN di sini! Jangan hanya terpaku jadi "anak mami" dengan praktek di kota saja. Sekali-kali maju dong ke garis depan. Rasakan bagaimana sebenarnya "peluh" seorang guru. Saya jamin akan jadi pengalaman hebat tak terlupakan.

23 komentar:

  1. alam kita sudah terlampau rusak pak,
    dan cuma sedikit yg terfikir untuk menjaganya,
    kalau sudah muncul bencan begini,
    baru ribut2, tanpa solusi pula
    smoga tetap tabah ya

    BalasHapus
  2. Bagaimana saya nanti mau ke nagara ya. hehehe

    BalasHapus
  3. Salut untuk dedikasi pian tehadap dunia pendidikan.. membaca dan melihat foto tulisan pian dapat saya bayangkan bagaimana beratnya perjuangan para guru dan murid untuk mengajar dan belajar agar menjadi bangsa yang maju.
    Tetap semangat Pak...

    BalasHapus
  4. Ampun DJ..
    tapi asik bgt keliatannya.. meski gak bisa berenang tapi sahya bisa mengoperasikan perahu & dayung heheh.. (trus pake pelampung) ,,,
    tapi saya takut lintah pak.. gimana.?
    hii...

    BalasHapus
  5. Rumah panggung sudah tak sanggup lagi menahan banjir yang dari tahun ke tahun semakin tinggi.

    Wah Pak ... kalau medannya seberat ini, sayang kalau tanggung - tanggung dalam berjuang. Kepalang basah, hajar terus bro Syams.

    BalasHapus
  6. duh, ternyata apa yang pak syam alami jauh lebih berat dibandingkan saya ya. Kalau lagi hujan, biasanya sekolah saya yang jaraknya 23 km dari rumah, naik dan menanjak menuju puncak bukit sengare tidak saya kunjungi. takut longsoran. lagi pula jalannya menjadi amat licin.

    salut pak syam. tetap semangat di musim hujan yang membanjir ini.

    BalasHapus
  7. Wah..saya gak bisa bayangkan,kalau saya bekerja di daerah itu, saya salut dan kagum atas pengabdian rekan-rekan disitu, yah Tuhan telah menujukan kuasanya lewat alam, semoga kita bisa mengambil pelajaran beharga dari ini semua, oya salam buat rekan-rekan disitu dan tetap semangat

    BalasHapus
  8. Mungkin, sebentar lagi giliran Danau Panggang. Sudah kelihatan tanda-tanda air makin tinggi. Setiap tahun kita juga selalu kebanjiran. Ruas jalan Danau Panggang - Babirik, sudah kebanjiran. Danau Panggang - Alabio, keknya tinggal menghitung hari....

    BalasHapus
  9. miris juga ngeliat photo2 yg ada. Kalau yg di atas saja udah gitu, gimana kami yg lokasinya di bawah ini?

    BalasHapus
  10. Lapor bang. saya anak STKIP. tapi sudah PPL. Insya Allah nanti berkunjung kesana. Ok Bang... Peace

    BalasHapus
  11. Saya setuju banget ma usul Bapak, supaya target sekolah untuk PPL jangan di wilayah perkotaan aja. Tapiiii... ada tapinya neh pak... Jangankan mau PPL yang nun jauh di sono, yang di perkotaan ini aja banyak yang ngeluh. Khususnya di STKIP ni, alasan karena banyak mahasiswa kami adalah pekerja (mulai bekerja sebagai non guru sampai yang memang guru, baik guru sekolah ataupun guru privat). Biasanya keluhan datang, gimana ya saya kan pagi kerja, sore masih ada ambil kuliah.
    PPL 1 biasanya seminggu penuh untuk observasi sekolah secara global trus bikin laporan.
    PPL 2 biasanya kurang lebih 2-3 bulan karena praktek mengajar yang harus ditunaikan setidaknya 8 kali pertemuan (itu optimal, jadi boleh lebih 8 kali, nggak boleh kurang).
    Inilah fakta yang moga** bisa Bapak pahami, bahwa seluruh Mahasiswa kami tidak sepenuhnya mahasiswa murni tapi sebagian dari mereka berstatus pekerja. Kalo PPL harus ke luar kota ya ada kemungkinan, dipecat dari pekerjaan dan gak bisa bayar uang semesteran.

    BalasHapus
  12. Bang knp gak di SMPN 1 DAHA SELATAN aja kan lebih deket, rumah aq deket smp1 daha selatan hehe...jalan satria bang tau gak, yg deket pasar nagara itu lho?

    BalasHapus
  13. hmmm...luar biasa memang perjuangan para guru kita disana. salut dan prihatin juga sih...

    tapi....

    BalasHapus
  14. Ass.

    Semoga pengabdiannya selalu mendapatkan kemudahan dan kelapangan meskipun tergambar betapa berat dan terpencilnya lokasi pengabdian.

    Dari penggambaran, jelas terlihat adanya langkah yang mantap dan terpancar kebahagiaan tersendiri dari Pak Syam, dan yang penting semangat dalam menjalaninya.

    Tantangan Pak Syam ... adakah yang juga mampu melihat suatu keadaan dengan bahagia, insya Allah ada dan semoga mereka yang memilih jalan seperti Pak Syam tergerak untuk bergabung.

    Wass.

    BalasHapus
  15. God!! Aku baru bertandang kemari dan, luar biasa: inilah hidup yang sesungguhnya.

    Salut, bersaluir, beruluk hormat tiada terkira. Ungkapan hidup ada perjuangan betul-betul bermanifestasi di Bajayau.

    Ribuan terima kasih telah menceritakan wajah bumi Indonesia dari sisi yang paling nyata.

    Salam, Pak Guru Ideris.

    BalasHapus
  16. Mempritatinkan ya..??
    sebuah Fenomena yg harus di ketahui oleh pemerintah setempat...

    oh iya.. Selamat menyambut HARI IBU..
    22 Des 2008
    Kasih Ibu tiada duanya

    BalasHapus
  17. saya salut banget dengan dedeikasi dan perjuangan rekan2 sejawat yang demikian gigih mengentaskan anak2 daerah pedalaman dari keterbelakangan dan kebodohan. tantangan alam yang demikian sulit bukan halangan. duh, repot juga kalau bajir harus rutin tiap tahun datang melanda sekolah. semoga buah perjuangan dan kerja keras pak syam dan kawan2 di bajayau dinilai sebagai amal ibadah yang taka kan terputus nilai pahalanya, pak sya,. bener2 terharu dan mengharukan. selamat berjuang, pak syam.

    BalasHapus
  18. Duh ... gimana ya. Mas Syam ... kolam saya menyatu dengan 'danau' hingga menjadi danau lebih besar. Dua harian melakukan penyelamatan dengan memasang kandang jaring. Ya, dari pada mengeluh, dilakukan dengan lapang hati, dan enjoy. Mau gimana lagi, Yang oenting usaha (curhat he he).

    BalasHapus
  19. sungguh memperhatikan ya om....
    salut bwt anak2 n guru2nya ang msh berjuang....

    BalasHapus
  20. Saran saya buat Pejabat :
    1. Sungai amandit dan negara perlu dikeruk (normalisasi) karena pendangkalan sudah meenjadi-jadi.
    2. Batasi daerah yang akan menjadi lahan kebun sawit di negara yang meupakan daerah penyerap air sehingga akan meminimalisir dampak banjir (seharusnya daerah ini dilarang untuk pengurukan apalagi penanaman)
    3. Pemerintah Propinsi Harus Melakukan Normalisasi Juga di sungai barito, karena kalau kab. HSS saja yang melakukan normalisasi maka akan membawa dampak buruk bagi HSS.
    4. Buat Pak syam, tulislah terus sebanyak-banyaknya agar pemimpin kita bisa tahu daerah mana yang perlu disentuh, dan sentuhan apa yang tepat bagi daerah tersebut.

    BalasHapus
  21. PRIHATIN...
    smua berawal dari keserakahan kita..
    kita lupa bahwa alam ini harus hidup dengan keseimbangan

    BalasHapus
  22. saya sangat tertantang, sayang saya tidak di tantang wkwkwk
    saya mahasiswa stmik banjarbaru pak, siap di tantang bikin anak ...
    hohohoo... begaya ja ulun pak lah

    sakit banar sekolah mun banjir ato calap, bahari di sungai danau ulun bila banjir ba ban ka sakulahannya. sakilanya bebaya sampai ka sakulahan, gurunya kdd nang turunnya wkwkkw

    BalasHapus
  23. sekarang bagaimana kondisi waterworld-nya, pak syams? mudah-mudahan air sudah surut dan tidak ada kerusakan berarti.
    kalimantan yang banyak hutan aja bisa banjir, gimana dengan daerah yang miskin area resapan airnya, ya?

    BalasHapus

Terima kasih atas komentar anda.