05 Oktober 2008

Saya tertarik dengan judul berita utama Kantor Berita Antara :"Pemerintah Harus Beri Subsidi BBM Kepada Nelayan" yang dirilis beberapa bulan lalu bisa dilihat di sini. Menurut saya hal ini bohong dan penipuan pemerintah terhadap rakyatnya.

Coba pikirkan, saat membaca berita di atas yang terbayang adalah pemerintah telah atau akan berbaik hati memberikan subsidi BBM kepada rakyatnya. Puluhan bahkan ratusan triliun "dikorbankan" pemerintah untuk menolong rakyat agar harga BBM menjadi murah. Wah, sungguh baik hati ya pemerintah kita. Terlihat sekilas bahwa ini merupakan kebijakan baik, hebat, populis, yang harus kita dukung. (Walaupun kenyataanya saat ini subsidi itu sedikit-demi sedikit mulai dan akan dihilangkan).

Kebohongannya adalah: Pemerintah tidak memberikan subsidi kepada rakyatnya karena uang yang dipakai untuk subsidi tersebut memang uang rakyat. Artinya pemerintah hanya menyalurkan kembali uang rakyat kembali ke rakyat dalam bentuk subsidi.

Jadi pemberi subsidi sebenarnya adalah para pembayar pajak karena pendapatan APBN terbesar dari pajak. Artinya uang subsidi BBM "pemberian pemerintah" itu sebenarnya uang dari WNI yang baik dan taat pajak. Mereka bisa siapa saja, pedagang, pengusaha, PNS, POLRI, TNI, Petani, Nelayan yang telah bersusah payah dan berkeringat darah mencari nafkah untuk keluarganya dan berbaik hati menyisihkan sekian persen membayar pajak untuk membiayai APBN.

Tapi anda jangan berpikir kalau orang kecil biasa yang tidak punya NPWP tidak ikut bayar pajak. Apakah itu tukang becak, pedagang kecil, petani penggarap, bahkan pengangguran pun ikut bayar pajak. Bagaimana caranya?

Menurut Imam Semar cara pemerintah menarik pajak ada 2 macam. Jalur langsung dan jalur tidak langsung. Jalur langsung adalah penarikan pajak biasa. Yang jarang kita ketahui adalah jalur tidak langsung. Bayangkan bagaimana caranya pemerintah menarik pajak dari abang tukang bakso di desa terpencil?

Caranya adalah melalui inflasi. Inflasi arti riilnya adalah berkurangnya nilai tabungan atau uang yang kita simpan dirumah. Bayangkan kita menyimpan seribu rupiah pada tahun lalu bisa untuk membeli dua biji kue. Ternyata tahun ini uang seribu hanya bisa untuk membeli satu biji kue. Artinya nilai riil uang tahun ini telah berkurang tinggal separuhnya. Dalam bahasa "keren" ekonomi ini disebut terjadi inflasi 50%. Penyebab utama terjadinya inflasi adalah jika pemerintah mencetak uang baru tanpa ada penambahan produksi riil barang. Yang terjadi adalah jumlah uang melebihi harga barang sehingga permintaan akan lebih besar dari penawaran. Otomatis harga barang akan naik. Nah, naiknya harga barang ini disebut juga inflasi. Ingat, artinya nilai riil uang yang kita miliki akan berkurang. Sekarang anda sadar tidak bagaimana cara pemerintah secara tidak langsung menarik uang dari saku kita.

Kesimpulannya, uang subsidi yang "diberikan" pemerintah berasal dari kita semua, dari tukang becak sampai pengusaha besar, baik lewat penarikan pajak langsung atau pun pajak tidak langsung. Jadi janganlah anda terpesona oleh "kebaikan hati" pemerintah mengeluarkan subsidi BBM ataupun BLT karena itu duit kita sendiri. Pemerintah memang dipilih dan digaji untuk melakukan hal tersebut, yakni mensejahterakan rakyat yang telah memilihnya.

Kalau anda masih belum faham atau tidak percaya silakan baca tulisan dari pakarnya, yakni Imam Semar di sini.

Coba pikirkan? Apakah saya bohong atau pemerintah yang bohong.....

6 komentar:

  1. Pak Ideris betul. Apa yang dikatakan subsidi itu sebenarnya bukan subsidi. Pemerintah nggak punya dana kalau tak ada pajak dari rakyat.

    Jadi kalau ada pernyataan pemerintah memberi subsidi, saya kira ini gaya bahasa eufemisme yang sebenarnya ya.... bohong. he he...

    BalasHapus
  2. Memang tul...nyak hong nya....

    BalasHapus
  3. Saya menilai dari persfektif berbeda Pak.
    Bahwa benar, pada dasarnya dana² adalah berasal dari publik dan kembali kepada negara dalam bentuk penerimaan negara (pajak dan/atau bukan pajak).

    Penekanannya adalah, dana tersebut kembali kepada negara, bukan kepada pemerintah yg notabene hanyalah penyelenggara negara.

    Jadi, subsidi bukanlah kebaikan pemerintah, namun memang menjadi salah satu cara pemerintah dalam menjalankan kewajiban mengelola negara. Akhirnya, saya memang tak pernah merasa dibohongi.
    :)

    BalasHapus
  4. Tidak akan pernah ada kebohongan sejauh yang dibohongi tahu, masalahnya adalah: banyak orang yang mau dibohongi he he

    BalasHapus
  5. itulah kenyataan yang terjadi Pak kita pun seperti lelah untuk terus di bohongi tapi seperti tak guna menghujatnya jadi seperti putus asa saja pak
    salam hormat dari kelir

    BalasHapus
  6. kalau memamng beitu, trus dapat dari mana uang pemerintah supaya bisa subsidi BBM?
    supaya tidak pake duit Rakyat dari pajak tersebut.

    BalasHapus

Terima kasih atas komentar anda.