12 September 2008

Kenaikan gaji berkala adalah hak seorang PNS yang telah mejalani masa kerja dua tahun. Hal ini merupakan bentuk penghargaan negara dalam hal peningkatan kesejateraan pegawai yang bersangkutant. Tapi apa jadinya kenaikan gaji berkala kalau proses adminstrasinya sulit dan berbelit-belit dan ujung-ujingnya duit.

Hal ini baru saja saya alami. Sebagai seorang guru baru tentu saya kurang mengetahui proses pengurusan kenaikan gaji berkala. Menurut perkiraan saya, setelah sampai waktunya maka pihak sekolah atau dinas pendidikan akan mengerjakannya. Ternyata tidak begitu, sudah hampir satu tahun lebih kenaikan gaji saya yang terhitung sejak Januari 2008 tidak pernah bisa saya nikmati.

Mungkin kesalahan pertama pada saya karena tidak proaktif mengurus sendiri kenaikan gaji berkala. Tapi perlu diketahui, saya pulang pergi mengajar berangkat jam 06:30 Wita dan kembali kerumah pukul 16:00 Wita. Jadi mana sempat mengurus hal ini. Belum lagi banyaknya beban kerja mengajar. Sebelumnya saya kira, pengurusan gaji berkala ini bisa diselesaikan oleh pihak sekolah atau dinas pendidikan. Ternyata saya salah. Sebagai guru yang harusnya bisa fokus pada tugas mengajar ternyata harus bolak-balik ke Dinas Pendidikan bahkan ke Bagian Keuangan Pemda hanya untuk mengurus kenaikan gaji berkala.

Setelah sadar sudah 6 bulan gaji berkala saya tidak kunjung naik, maka saya terpaksa izin mengajar untuk mengurusnya ke Bagian Kepegawaian. Ternyata tidak begitu lama SK berkala nya keluar. Sungguh prosesnya tidak sulit ya. Tapi tunggu dulu! saya kembali salah perkiraan.

Ternyata yang keluar baru SK kenaikan gaji berkalanya tapi didaftar gaji belum masuk. Ya, sudahlah saya kembali disuruh bolak-balik lagi ke Bagian Keuangan Dinas Pendidikan. Berkas kenaikan gaji berkala untuk perubahan gaji saya masukan bulan Juli dengan harapan bulan agustus bisa masuk.

Hingga saat ini bulan September gaji masih belum naik-naik. Kembali saya cek ke Bagian Keuangan Dinas Pendidikan ternyata "katanya" berkas saya sudah diproses. Karena saya katakan bahwa "kalau sudah diproses kenapa belum masuk di daftar gaji!". Akibatnya saya kembali "diping-pong". Disuruh mendatangi bagian Keuangan Pemda. Waduhh...emangnya saya tidak ada kerjaan lain. Kan digajinya pegawai bagian keuangan Dinas Pendidikan untuk mengerjakan hal tersebut. Kenapa saya sendiri yang disuruh, kalau begitu apa gunanya pegawai keuangan di Dinas Pendidikan.

Setelah pulang dan merenung akhirnya saya sadar. Kemarin waktu memasukan berkas di Bagian Keuangan saya "lupa" memberikan tips. Sebenarnya bukan lupa sih. Saya termasuk orang yang takut "menyogok". Teringat sebuah hadits dari Baginda Nabi Muhammmad SAW, "Barang siapa yang menyogok dan yang disogok akan masuk neraka". Jadi apa mungkin gara-gara hal tersebut, "lupa memberi tips" akhirnya berkas kenaikan gaji berkala saya tersendat entah dimana.

Sabar, sabar..kan bulan puasa. OK dech kali ini saya ngalah lagi. Kembali bolak-balik ke Bagian Keuangan Pemda untuk mencek masuk tidaknya berkas saya. Ternyata di sana memang belum masuk berkasnya. Ya, tentu saja kenaikan gaji berkala yang sangat saya harapkan itu tidak bisa saya peroleh. Lha, berkasnya saja tidak masuk ke bagian pembuat daftar gaji.

Subhanallah....Sungguh malang nasib PNS di Indonesia ini. Sudah gaji sedikit dan kadang hanya cukup menutupi kebutuhan 2 minggu, kenaikan gaji berbelit-belit dan dipersulit lagi. Mudah-mudahan anda semua tidak mengalami nasib seperti saya. Dan kita doakan mudah-mudahan para birokrat kita yang terbiasa makan uang "tips" alias "uang sogok" diberikan hidayah oleh Allah SWT agar tidak lagi mempersulit pegawai rendahan seperti saya. Amien, Ya Rabbal Alamin.

12 komentar:

  1. Sabar ya Pak. Terus terang Dinas Pendidikan (mungkin hampir se-Indonesia) perlu direformasi secara menyeluruh. Apa yang Bapak alami juga terjadi pada kawan-kawan lainnya. Nyogok, sesuatu yang jelas tidak dibenarkan, apalgi di institusi pendidikan. Tapi anehnya, institusi yang seharusnya jadi pedoman itu masih belum mampu mereformasi dirinya.

    Tugas kita tentunya Pak

    BalasHapus
  2. Sabar ya Pak. Terus terang Dinas Pendidikan (mungkin hampir se-Indonesia) perlu direformasi secara menyeluruh. Apa yang Bapak alami juga terjadi pada kawan-kawan lainnya. Nyogok, sesuatu yang jelas tidak dibenarkan, apalgi di institusi pendidikan. Tapi anehnya, institusi yang seharusnya jadi pedoman itu masih belum mampu mereformasi dirinya.

    Tugas kita tentunya Pak

    BalasHapus
  3. Ya,sabar..apalagi ni kan bulan Puasa!

    BalasHapus
  4. sabar pak, ini bulan puasa saya yakin hikmah dibalik itu semua sangatlah besar

    BalasHapus
  5. Salam kenal pak idris, trimakasih main-main ke blog saya.
    Wah susah juga ya ngurus kenaikan gaji berkala itu...

    BalasHapus
  6. Siiip. Bagus artikelnya, aku suka. Btw, Gimana nih MGMP TIK kita, kapan dimulainya?

    BalasHapus
  7. Thanks, atas masukannya.
    Untuk Nasrullah: MGMP TIK kita harusnya segera dimulai, OK nanti saya calling Pak Harmono dulu, kan beliau "tetua" kita. he..he..he..

    BalasHapus
  8. waduh, kok bisa demikian berbelit-belit, ya, pak. di jawa semua urusan administrasi keuangan diurus semuanya oleh TU, khususnya di sekolah saya. saya juga ndak pernah mengeluarkan uang tips utk ini itu. semuanya lancar2 saja tuh, pak. mudah2an saja para pengambil kebijakan mengetahui hal ini.

    BalasHapus
  9. wah. Ternyata mekanisme dinas pendidikan disana tak berbeda jauh dengan di sini ya pak Syam. Yap. Saya bisa membayangkan susahnya bikin berurusan sedemikian, dipingpong dll.

    Pengalaman saya, bikin laporan LPKJ. Wah..jangan ditanya pak.. he..he :lol:

    BalasHapus
  10. Katanya orang-orang, di dinas pendidikan kami bagian keuangannya juga gitu. Biasanya teman-teman langsung terobos jalur, pergi ke keuangan pemda. Soalnya kalau lewat dinas pendidikan kelamaan banget katanya.... (he..he..., saya tak pernah ngurusi, soalnya saya naik berkala bareng teman yang rajin ngurus. Saya titip saja. Sampai hari ini belum pernah ngurus berkala.)

    BalasHapus
  11. Apa nang Bapak alami sepertinya kada jauh beda wan apa nang hanyar ulun alami, bedanya kalau pian maurus KGB ulun nih maurus SK PNS, wan sampain PNS Daerah, ulun PNS Pusat, jadi urusannya tajauh ka Jakarta sana, nang maulah ulun asa muar banar kakawanan nang taimbai ulun pina kadada masalah datangan haja SK nya ka kantor. rupanya memang nasib ulun, marilaakan labih saparo gajih gasan malumasi supaya SK nya lancar, bakurban waktu, tanaga wan duit dahulu hanyar SK nya kaluar, ada rasa kada ikhlas pas manjulung duit nang dipinta oknum itu, handak bamamai, siapa nang di mamayi, ulun hanya bisa pasrah dan tawakkal mahadang hikmah semua ini. kaya apa yu pa, supaya budaya nang kaya itu kadada lagi ?

    BalasHapus
  12. Sumber petaka di negeri ini awalmulanya juga dari sektor pendidikan. Sabaaaar...

    BalasHapus

Terima kasih atas komentar anda.