10 September 2008

Saya telah bertahun-tahun mengajar di daerah terpencil. Segala suka dan duka telah dilalui. Sekarang yang tersisa adalah perasaan sayang kepada anak-anak didik yang polos. Rasa cinta pada keindahan rawa di Bajayau. Walau perjalanan dari kota Kandangan ditempuh cukup jauh, tapi segala rasa penat dan lelah akan hilang begitu melihat semangat belajar anak didik, melihat kepatuhan mereka pada guru.

Tiba-tiba datang tawaran untuk pindah kerja ke kota Kandangan. Saya ditawari dua pilihan, yakni pindah ke SMPN 1 Kandangan yang merupakan Sekolah Berstandar Internasional atau pindah ke SMAN 2 Kandangan sebagai sekolah yang diunggulkan dan berciri khas kemajuan TI. Bahkan pernah juga diberi tawaran pindah ke "struktural" yakni di bagian Tata Usaha Dinas Pendidikan Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Sebagai manusia biasa tentu saya merasakan capai dan lelah jauhnya perjalanan untuk pergi mengajar ke daerah terpencil. Saya juga merasakan segala keterbatasan fasilitas dan prasarana pendidikan di daerah terpencil yang jauh dari kemajuan kota. Terkadang hati ini berkhayal, enaknya mengajar di kota . Jarak tempuh dekat, fasilitas lengkap, kalau pelatihan selalu diikutsertakan.

Tapi ada sebagian sisi hati ini yang masih ingin tetap bertahan di Bajayau. Masih ingin "bertempur" di garis depan. Masih ingin "menjadi guru" bagi anak-anak miskin di daerah terpencil. Entah kenapa terasa berat dan enggan pindah ke kota.

Bingung. Bagaimana jalan terbaik? Ada saran.....???

13 komentar:

  1. Wah dilema nih Pak!
    Tapi saran saya kalau mau meningkatkan karier lebih baik pindah ke kota dan sekolah unggulan dech...

    Kalau di pedalaman terus kapan majunya?

    BalasHapus
  2. Ada benarnya juga sih Pak! lagi mikir-mikir juga nich...

    BalasHapus
  3. Kalau bisa jangan pindah dulu Pak.
    Kan kasihan anak-anak yang ditinggalkan.
    Siapa lagi yang mau "berjibaku" di garis depan.
    Memang perjuangan butuh pengorbanan.

    BalasHapus
  4. Salam Kenal
    Wah Dilematis sekali pilihan di atas tapi jelas nampak bahwa anak didik yang berada di sekolah terpencil di desa yang miskin tersebut masih dan sangat membutuhkan bapak sebagai pengajarnya
    hems
    masih nggak solusi ya heheheh

    BalasHapus
  5. Kadang sebuah idealisme diuji...
    Pindah ke kota dengan janji karier yang makin bagus, sangat manusiawi.
    Kalau ke kota, mending ke SMP saja. Lagipula udah standar internasional kan..
    Dinas? Jangan deh.. Zaman sekarang, belumlah. Jangan dulu. Tunggu kalau prestasi jauh lebih dihargai dibanding koneksi.
    Selamat menimbang-nimbang. Kalau perlu tanya pendapat keluarga, tahajud?

    BalasHapus
  6. Kalau pindah, mending struktural. Dengan begitu bisa memperjuangkan semua sekolah di Kandangan yang terpencil. Kalau cuma pindah ke sekolah lain, semua guru rata-rata berpikir demikian. Jarak yg tidak jauh, fasilitas yang lengkap dll membuat rasa pengabdian itu menjadi berkurang. Akhirnya, bapak juga yang berhak memutuskan...

    BalasHapus
  7. Salam urang kandangan....
    Perkenalkan..aku urang kandangan jua nang ma'ajar TIK jua gasan SMA 3 Banjarbaru..
    Memang nang ngaran hati sudah bataut ngalih jar urang tu dilapas akan, ka'adaan ini hampir sama dengan aku, banyak tawaran sini situ lawan iming-iming nang maulah baliuran....

    Tapi klo menurut ku bawa haja kajalan Allah, sholat istikharah..insya Allah pasti menemukan jalan yang paling baik

    BalasHapus
  8. Pak Syam. Saya kira apapun pertimbangan yang "menggoda". Tetap pulang kepada "Suara Qolbu" pak Syam. Yang terdalam dan yang paling pak Syam hayati.

    Jujur saya tersentuh membaca tulisan diatas. Apalagi membaca dan menghayati kalau idealisme dan integritas pak Syam sangat besar. Demi memintarkan anak-anak bangsa. Sungguh sebuah sifat yang tidak banyak saya temui di antara teman-teman saya di dunia pendidikan.

    Saya hanya bisa memberi sumbangan pikiran kalau apapun yang pak Syam pilih nanti itu adalah yang terbaik dalam hidup. Maaf bila saya terkesan lancang apalagi pak Syam jauh lebih senior daripada saya.

    BalasHapus
  9. setiap orang punya pilihan, pak syam. memang pilihan yang sama2 sulit antara nilai idealisme dan pragmatisme. tapi bagi saya, cenderung berpendapat bahwa bertugas di mana pun tetap memiliki nilai, pak. sekarang, semuanya terpulang kepada pak syam sendiri. mudah2an pak syam bisa menggabungkan antara kepentingan idealisme dan pragmatisme itu.

    BalasHapus
  10. waduh... jujur, puyeng Pak saya...

    Tapi kalau usulan riil sih begini:
    Pindah ke tempat yg baru, karena Pak Syam juga harus berkembang terus. Tapi tetap komunikasi & tukar pikiran dengan tempat yg lama. Sekali waktu tetap disambangi.
    Menurut saya, posisi di pusat kota memungkinkan Pak Syam untuk berbuat sesuatu demi kepentingan tempat yg lama dalam kerangka yang lebih strategis.

    Dan saya sependapat kalau JANGAN pindah ke Dinas, karena dengan keyakinan dan idealisme yg Pak Syam anut, rasanya akan lebih baik di fungsional.

    BalasHapus
  11. sepertinya jangan pindah dulu pak masih banyak yang membutuhkan keiklasan bapak di sana

    BalasHapus
  12. genthokelir: memang Pak, sebenarnya saya tidak tega meninggalkan anak didik tercinta, walau mereka penuh keterbatasan tapi rasa hormat dan taat pada guru sangat besar tidak seperti anak di kota.

    Suhadinet: benar dech Pak Suhadi..kayanya iklim kerja di Struktural nggak sehat karena menganut azas konektivitas dan ABS.

    Hariesaja: Wahh..struktural cukup menggoda, tapi saya takut jika "sang promotor" yang mengajak saya nanti pindah jabatan saya nanti ikut dikucilkan alias anak ayam kehilangan induknya.

    SQ: Akh..anda terlalu memuji. Sebenarnya saya nggak terlalu idealis. Tapi masa kecil saya yang dulu juga termasuk anak desa miskin yang membuat saya dekat dengan mereka.

    Suriyadi: Akh..materi selalu menggoda..sampai baliuran. Benar saran anda, kayanya harus minta ketetapan hati dari Allah SWT, Istikharah.

    sawali tuhusetya : Benar Pak! sulit agar idealisme dapat selaras dengan kebutuhan pragmatis. Kadang berbenturan. Tapi mungkin disitulah seninya hidup dan bekerja.

    Pakacil: Benar juga saran Pakacil, tapi sulit juga kalau udah pindah ke sekolah lain, trus saya mampir ke Bajayau dalam kapasitas apa?

    Link Kelir Arta Media: Benar Pak! kuncinya keikhlasan....hiks..hiks..hiks jadi terharu

    BalasHapus
  13. mampir dalam kapasitas apa?

    Dalam kapasitas teman yg masih memberi perhatian Pak. Kedekatan personal jauh lebih bermakna dari pada kedekatan institusional.

    Prinsip saya Pak, Idealisme itu penting, tapi CARA membawakan idealisme, itu jauh lebih penting.

    Maaf Pak, bukan bermaksud mempengaruhi atau sejenisnya, tapi saya hanya mencoba memposisikan diri pada posisi Pak Syam, kira-kira itulah yg akan saya lakukan.

    Titik kompromi yg saya ambil antara idealisme dan pragmatisme adalah, saya akan berusaha menggunakan posisi di pusat kota untuk membangun aliansi yg bermanfaat bagi tempat yg lama dan yg sejenis.

    BalasHapus

Terima kasih atas komentar anda.