20 Mei 2008



Seorang teman Guru Sejarah bercerita bahwa dia meragukan Budi Oetomo sebagai tonggak awal kebangkitan nasional. Bahkan dia dengan yakin dan lantang menyatakan bahwa seharusnya hari kebangkitan nasional adalah tanggal 16 Oktober, hari berdirinya Sarekat Dagang Islam yang kemudian berubah menjadi Sarekat Islam. Simak apa alasannya?


Budi Utomo lahir dari pertemuan-pertemuan dan diskusi yang sering dilakukan di perpustakaan School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) oleh beberapa mahasiswa, antara lain Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Goembrek, Saleh, dan Soeleman. Mereka memikirkan nasib bangsa yang sangat buruk dan selalu dianggap bodoh dan tidak bermartabat oleh bangsa lain (Belanda), serta bagaimana cara memperbaiki keadaan yang amat buruk dan tidak adil itu. Para pejabat pangreh praja (sekarang pamong praja) kebanyakan hanya memikirkan kepentingan sendiri dan jabatan. Dalam praktik mereka pun tampak menindas rakyat dan bangsa sendiri, misalnya dengan menarik pajak sebanyak-banyaknya untuk menyenangkan hati atasan dan para penguasa Belanda.

Para pemuda itu akhirnya berkesimpulan bahwa merekalah yang harus mengambil prakarsa menolong rakyatnya sendiri. Pada waktu itulah muncul gagasan Soetomo untuk mendirikan sebuah perkumpulan yang akan mempersatukan semua orang Jawa, Sunda, dan Madura yang diharapkan bisa dan bersedia memikirkan serta memperbaiki nasib bangsanya. Akhirnya pada hari minggu tanggal 20 Mei 1908 pukul 9 pagi bertempat di salah satu ruang belajar STOVIA, Soetomo menjelaskan gagasannya. Dia menyatakan bahwa hari depan bangsa dan Tanah Air ada di tangan mereka. Maka lahirlah Boedi Oetomo.(id.wikipedia.org)

Dalam versi sejarah Indonesia, Budi Oetomo yang dipelopori oleh dr. Wahidin Sudirohusodo dan berdiri pada tanggal 20 Mei 1908 dianggap sebagai pelopor kebangkitan nasional yang menandai munculnya kesadaran berbangsa.[1] Namun penyandaran pelopor kebangkitan nasional kepada Boedi Oetomo tersebut, saat ini banyak dipertanyakan. Alasannya, Boedi Oetomo merupakan perkumpulan kaum ambtenaar, yaitu pegawai negeri yang setia kepada pemrintahan kolonial Belanda.[2] Ketua BO yang pertama adalah Raden T. Tirtokusumo, Bupati Karanganyar yang menjadi orang kepercayaan Belanda yang menjabat dari tahun 1908 sampai tahun 1911. Penggantinya tidak jauh berbeda, yaitu Pangeran Haryo Noto Dirojo dari istana Paku Alam, Yogyakarta. Noto Dirojo adalah orang dalam keraton yang mendapatkan gaji dari Belanda, sehingga dia sangat patuh kepada induk semangnya.

Dengan adanya keterikatan yang mendalam dengan pemerintahan kolonial dan sifat keanggotaannya yang terbatas bagi kaum nigrat – aristocrat elite serta terbatas pada suku Jawa dan Madura maka agak sulit BO bergerak menjadi organisasi yang siap memperjuangkan nasib rakyat dan bangsanya. Selain bersifat chauvinis- regional, dalam Anggaran Dasarnya, BO masih menggunakan Bahasa Belanda. Bahkan tercatat bahwa Boedi Utomo merupakan gerakan fanatisme sempit yang anti Islam dan Anti Arab.[3] Tujuan pendirian BO terbatas pada kemashlahatan sektoral, Jawa dan Madura, serta tidak menyebutkan istilah kemerdekaan dalam platform organisasinya.[4]

Kalangan yang menolak BO sebagai memberikan alternatif bahwa Sarekat Dagang Islam (SDI) yang berdiri di Solo pada tanggal 16 Oktober 1905 sebagi organisasi pelopor pergerakan dan kebangkitan nasional. Berbeda dengan Boedi Oetomo, SDI memiliki anggota yang meliputi seluruh wilayah nusantara dan mengakomodir kepentingan umat Islam, mayoritas penduduk nusantara. Selain itu SDI juga memperjuangkan nasib rakyat dan aktif menghantarkan bangsa ke gerbang kemerdekaan. Anggaran Dasar SDI sebagaimana tercacat dalam Ensiklopaedia Nasional Indonesia bertujuan untuk berikhtiar meningkatkan persaqudaraan diantara sesame naggota, tolong menolong di kalangan kaum muslimin, berusaha meningkatkan derajad kemakmuran dan kebebasan negeri.[5] Namun kelahiran SDI yang tiga tahun lebih awal dari BO, dibantah juga oleh beberapa orang. Deliar Noer, sebagai contoh, menyatakan bahwa gerakan modern Islam di Indonesia tidaklah dimulai pada tahun 1911 dengan berdirinya Sarekat Dagang Islam.[6] Deliar Noer memperkuat argumentasinya dengan menggunakan hasil wawancaranya dengan Raden Goenawan yang menyatakan hal tersebut. Perlu diketahui bahwa Raden Gunawan sebelumnya adalah salah seorang pendiri Boedi Oetomo dan pembantu dekat DR. Soetomo sebagai mahasiswa STOVIA yang turut mendirikan Boedi Oetomo di Jakartya pada tahun 1908. Setelah keluar dari Boedi Oetomo, Raden Goenawan masuk ke dalam Syarikat Islam pada tahun 1913 dan menduduki jabatan sebagai wakil ketua dikarenakanpendidikannya yang cukup tinggi. Bahkan di Sumatra Selatan dia juga disebut sebagai orang yang keramat yang dihormati sebagai wali Allah. Raden Goenawan tidak sempat menyelesaikan pendidikannya di STOVIA. Namun dia lulus dari OSVIA Probolinggo.[7] Namun kemudian baru diketahui motif Raden Gunawan sebenarnya ketika masuk ke SI, dimana dia terlibat dalam memecah belah pengurus Sarekat Islam[8] dan terlibat korupsi dana organisasi.[9] Pasca dipecat dari kepengurusan SI, Raden Goenawan kembali masuk ke dalam Boedi Oetomo yang secara kentara merupakan organisasi anti Islam dan berseberangan dengan SI. Dengan demikian dapat diketahui motif sebenarnya pernyataan Raden Goenawan yang dikutip oleh Deliar Noer tentang tanggal kelahiran SDI. Selain itu keterangan lain yang lebih kuat menyatakan bahwa SDI lahir pada tanggal 16 Oktober 1905.[10] Oleh karena sifat SDI yang kemudian berubah menjadi SI yang menasional dan memiliki visi dan missi yang jelas, maka sejumlah kalangan menyatakan bahwa SDI lebih layak ditetapkan menjadi icon organisasi pelopor pergerakan nasional dibandingkan Boedi Oetomo.

[1] Drs. Kaelan M.S. Pendidikan Pancasila. (Penerbit Paradigma, Yogyakarta, 2002).. Hal. 34

[2] KH. Firdaus AN. Syarikat Islam, Bukan Budi Utomo : Meluruskan Sejarah pergerakan Bangsa. Dalam Majalah Al Muslimun, No. 323 Thn. 27/1997. Hal. 77

[3] Lihat Republika, Edisi tanggal 23 Agustus 1996. Selain itu karena sikap dan kiprah Boedi Oetomo yang kurang terpuji tersebut maka Boedi Oetomo atau BO sering diplesetkan oleh kaum muslimin menjadi “Boedi ala” (artinya budi yang jelek). Hal ini dapat dibaca dalam Prof. Slametmuljana. Nasionalisme Sebagai Modal Perjuangan Bangsa Indonesia. (PN Balai Pustaka, Jakarta, 1968). Hal. 118

[4] Yeni Rosdianti Rasio. SDI – SI : Sang Pelopor Kebangkitan. Dalam Majalah sabili Edisi Khusus. Islam: Kawan atau Lawan. (PT Bina Media Sabili, Jakarta, 2004). Hal. 15

[5] Yeni Rosdianti Rasio. SDI – SI : Sang Pelopor Kebangkitan. Dalam Majalah sabili Edisi Khusus. Islam: Kawan atau Lawan. PT Bina Media Sabili, Jakarta Ibid. Hal. 14

[6] Lihat Deliar Noer. Gerakan Modern Islam di Indonesia. (LP3ES, Jakarta, 1995). Hal. 11

[7] A. P.E. Korver. Sarekat Islam Gerakan Ratu Adil ?. (Grafitipers, Jakarta, 1985). Hal. 87

[8] A. P.E. Korver. Ibid. Hal. 41

[9] A. P.E. Korver. Ibid. Hal. 175

[10] Lihat wawancana Tamar Djaya dengan H. Samanhudi yang menyatakan : “ Dengan ikhlas, untuk kemurnian sejarah pergerakan Indonesia dengan ini saya terangkan bahwa SDI dilahirkan pada tanggal 16 Oktober 1905 di rumah saya di kampong Sondakan Solo dengan delapan orang teman, yaitu saudara Sumowardoyo, Wiryotirto, Suwandi, Suryopranoto, Jarmani, Harjosumarto, Sukir, dan Martodikoro. Baca Majalah Assiyasah No. 5, Surakarta, 1974. Hal. 17 yang dikutip dalam KH. Firdaus AN. Opcit. Hal. 80

0 yang telah berkomentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentar anda.